Review

Al Qur’an. Manual Book of Life

” Bacalah petunjuk penggunaan ini dengan seksama sebelum anda menggunakan Penanak Nasi Mi**ko”
Kalimat petunjuk penggunaan ini saya baca dari manual book sebuah produk penanak nasi, kertas ini saya temukan tanpa sengaja ketika beres-beres lemari buku. Saya ingat itu adalah kertas petunjuk penggunaan penanak nasi yang  dibeli istri saya setahun yang lalu.
Iseng saya amati manual book 4 halaman itu. Meski cuma 4 halaman tapi cukup informatif. Memuat tatacara penggunaan produk penanak nasi tersebut. Diantaranya; Cara menggunakan penghangat, cara menggunakan pengukus, cara membersihkan, dan beberapa poin peringatan. Begitu lengkap. Padahal seingat saya, istri dan saya dari mulai beli hingga sekarang belum pernah membaca petunjuk penggunaan ini. Langsung we gunain, toh hingga detik ini Alhamdulillah tidak terjadi apapun, karena kami sudah hafal gimana cara gunainnya.
Ngapain lagi dibaca, toh sudah terbiasa menggunakannya! Mungkin itu pendapat kita.
Tapi tak segampang itu bro. Ternyata semua produk resmi yang memerlukan perlakuan khusus selalu ada petunjuk penggunaan dan perawatannya. Meskipun kita sudah familiar dalam menggunakannya. Karena memang prosedur produksinya seperti itu. Produsen membuat produk harus disertai petunjuk penggunaannya.
Terus, entah hidayah dari mana tiba-tiba terlintas pertanyaan: bila produk sederhana buatan manusia saja kita perlu informasi akurat untuk menjalankannya, bagaimana dengan kita, manusia, yang merupakan “produk” kompleks dari Allah SWT?
Tentunya Allah SWT telah membekali kita dengan manual book yang super lengkap. Buku petunjuk yang wajib dibaca oleh manusia dalam menjalani hidup. Itu karena manusia adalah produk yang ditugasi untuk “mengoperasikan” atau berinteraksi dengan diri sendiri, manusia lain, hewan, tumbuhan, bumi dan seluruh isi alam semesta, serta berinterkasi dengan Allah SWT.
Otoritas pembuatan manual book pada penanak nasi diatas ada pada produsen, karena dialah yang paling mengetahui dan menguasai produk tersebut. Manusia dan alam semesta ini adalah produk ciptaan Allah SWT, maka Dia-lah yang paling berhak sebagai pembuat manual book tersebut. Dia-lah yang paling tahu bagaimana caranya menyelamatkan manusia dan alam semesta ini.
Dia-lah yang paling tahu jalan hidup yang harus ditempuh manusia. Dia-lah yang paling mengerti bagaimana menempuh jalan menuju bahagia.
Dengan manual book, manusia tak lagi meraba-raba, ragu, atau bimbang, sebab jalan hidup telah terbentang. Petunjuknya telah jelas. Arahnya sudah pasti. Kita, manusia, tinggal mengikuti.
Manual book buat kita adalah Al QuranApalagi sekarang bertepatan dengan ramadhan. Salah satu sebutan untuk bulan ramadhan adalah Syahrul Qur’an. Ini dikarenakan diturunkannya Al Quran tepat di bulan ramadhan. Sebagaimana firman Allah SWT,

“Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkannya Al Qur’an, petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda …” (Al Baqarah. 2: 185)
Kalau garansi manual book penanak nasi hanya berlaku 1-2 tahun. Manual bookdari Allah SWT memberi garansi seumur hidup tidak akan tersesat dan “terjadi kecelakaan”, asal mengikuti petunjuk sebagaimana tertera di dalamnya.

“… Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku (ikutilah). Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak celaka”. ( Thaha. 20: 123)
Semua falsafah hidup, ideologi, konsep, teori, atau ilmu yang berasal dari manusia, bersifat hipotesis. Kalaupun ada kebenaran di dalamnya, tingkat kebenarannya itu bersifat relatif dan subyektif.
Al Qur’an adalah petunjuk hidup
Sedangkan hidup adalah sebuah kepastian. Kita sedang menuju kepada sesuatu yang pasti. So, bagaimana mungkin yang pasti mengikuti yang belum pasti?
Sebagai salah satu “produk” Allah SWT, sudah sewajarnya kita mengikuti petunjuk dari Sang Pembuat (Khaliq) yang termaktub di manual book, Al Qur’an. Sebab akan aneh dan akan terjadi kehancuran jika kita yang produk Allah SWT tapi menggunakan buku petunjuk dari selain Allah SWT.
Jika kita melihat sejarah, terutama yang dikabarkan Al Qur’an, betapa banyak musibah dan azab yang terjadi di kalangan manusia sebagai akibat mengabaikan petunjuk Al Qur’an. Dalam sejarah pula dibuktikan antitesis dari tragedi kemanusiaan hanya akan terwujud jika manusia mau kembali ke manual book-nya, yakni Al Qur’an.
Rasa-rasanya, tidak ada satu pun cerita para Nabi dan pengikut setianya celaka karena mengikuti petunjuk Ilahi, sedangkan para penentangnya selamat. Justru sebaliknya, para pelaku setia petunjuk Allah SWT selalu berakhir dengan keselamatan dan kebahagiaan.
Karena itulah wajar jika kemudian Allah SWT mewajibkan kita untuk beriman kepada Kitab-Nya. Sebab, memang tidak ada alternatif lain yang bisa diambil dalam meraih kebahagiaan kecuali dengan mengikuti petunjuk-Nya yang original, Al Qur’an. Manual Book Kehidupan kita.
So, pake penanak nasi saja butuh petunjuk masak kita hidup ga butuh petunjuk! Yuk, kita kembali kepada Al Qur’an.
Tags :