Catatan

Balada Ngontrak

Baru dua minggu ini saya dan keluarga menempati kontrakan baru. Letaknya di Komplek Pos dan Giro. Sengaja milih di sana karena lokasinya yang dekat dengan sekolah Hasya. Sekolah si sulung letaknya bersebrangan dengan perumahan kami, malah gerbang sekolahnyapun terlihat dari rumah. Jadi tidak perlu lagi pake mobil antar jemput.

Kalau dihitung dari pertama pindah ke Bandung karena Hasya sekolah, maka ini adalah kontrakan yang ke empat yang kami tinggali. Sebelumnya, dua kali pindahan di sekitar Cisaranten Kulon (6 bulan), terus pindah ke Cipagalo (1 bulan), dan sekarang kami di perumahan Pos dan Giro.

Kalau dihitung dari setelah nikah maka total sudah sebelas kali kami pindah kontrakan. Paling lama kami ngontrak selama 7 bulan, dan paling sebentar kami tiga minggu. Apakah tidak capek? Apakah tidak memiliki keinginan punya rumah? Pertanyaan klasik yang pasti sudah pada tahu jawabannya. Hehehe..

Impian Yang Belum Terwujud
Pastinya memiliki rumah bagi setiap orang, terutama yang sudah berumah tangga adalah impian. Malah, menurut saya memiliki rumah bukan lagi impian, tapi sebuah kebutuhan.

Tapi harga rumah sekarang, yang segede pos ronda saja, mahalnya minta ampun, apalagi jika lokasinya di kota. Sebelum Hasya sekolah, saya dan istri berencana mau ngredit rumah. Sebuah kelumrahan di jaman sekarang. Ada gitu yang beli rumah cash sekarang, apalagi sekelas karyawan? Tapi, ternyata ga dapet-dapet. Ga dapet yang bagus dan harga murah. Pengennya sih, dapat rumah yang bagus, minimal kamar empat, ada taman, garasi, lokasi di kota, tapi harga di bawah 200 juta!

Nyatanya susah banget. Ada yang murah tapi lokasinya di Baleendah atau Rancaekek, atau di Cileunyi sana (maaf bukan bermaksud menjelekkan lokasi tersebut, tapi rata-rata daerah-daerah tersebut dilewat setiap orang dari daftar pencarian rumah). 

Hingga kemudian tiba Hasya waktunya sekolah. Mutar muter cari sekolah yang bagus, Alhamdulillah dapat sekolah yang bagus. Meski menguras dompet dan tabungan, tidak apa-apalah, apapun yang terbaik demi anak.

Terus gimana rumahnya? Kita ngontrak lagi saja. Toh ngontrak bukan pekerjaan haram dan memalukan toh, sembari nabung, kumpul-kumpul uang dari (sisa) gaji, dari orderan, dari sumbangan orang tua, siapa tahu cukup buat DP. Itu rencana tahun lalu. Nyatanya, setahun berlalu tapi uangnya ga kumpul-kumpul juga. Oladalah…

Terus rumahnya gimana? Kita ngontrak lagi aja. Allah belum ngasih, masih nunggu waktu yang tepat buat kita. Dia Maha Tahu yang terbaik buat kita. Mencoba bijak dan soleh.

Mencoba Menikmati dengan Bersyukur
Saya dulu, hingga sekarang, bercita-cita ingin keliling dunia, tinggal dan hidup di negeri-negeri jauh, misalnya Francis, Inggris, Kanada, Belgia, Swiss, Belanda, Jerman, Turki, Selandia Baru, Afrika Selatan, dll. Ingin menginjakan kaki di belahan Bumi Allah yang lainnya. Cuman hingga detik ini belum kesampaian.

Kini, saya dan keluarga keliling sebagian wilayah Bandung. Ngontrak. Mungkin sebelum saya diberi kesempatan keliling dunia, saya mesti keliling Bandung dulu,  Hehehe.

Kami sikapi dengan bijaksana aja sih, buat apa juga ngeluh. Memangnya kalau ngeluh langsung ada yang ngasih rumah? Dengan pindah sana pindah sini justeru kami jadi banyak keluarga, banyak kenalan, banyak kerabat. Apalagi daerah sekitar Babakan sari, Kiaracondong, wuuiihhh bagaikan melihat telapak tangan sendiri. Di daerah sanalah kami pindah kontrakan hingga tujuh kali. Hafal betul daerah sana. Tiap lewat gang-gangnya pasti ada saja yang kenal dan menyapa.

Kadang saya suka ngobrol sama istri, mungkin Allah membiarkan kita ngontrak dulu supaya kita banyak melakukan kebaikan di tiap tempat. Sejauh mana kebaikan yang kita berikan di tiap tempat yang pernah kita tinggali. Setelah itu kami sering review tiap tempat yang kita singgahi dan pernah tinggal di sana. Alhamdulillah, seingat kami, kami belum pernah melakukan kejelekan, baik ke yang punya rumah ataupun ke lingkungan setempat.

Kami dengan yang punya kontrakan yang dulu-dulu juga masih sering komunikasi, saling menyapa jika bertemu. Ada ibu kontrakan yang sms nanyain sudah punya rumah belum, kalau belum ngontrak di ibu lagi saja. Ada ibu kontrakan yang nangis tersedu sambil meluk istri saya ketika kami mau pindah (mungkin karena pemasukannya berkurang ya..).

Tapi syukur Alhamdulillah, dari pengalaman ngontrak ini kami jadi bertambah saudara, jadi hafal daerah-daerah yang tadinya kami tidak ketahui. Mungkin itulah hakikatnya, supaya kami saling mengenal dan saling silaturahmi.

Terus gimn rumahnya? Ngontrak lagi aja. Tidak apa-apa ngontrak asal bahagia, anak-anak soleh dan soleha, tercipta keluarga yang memberi manfaat untuk lingkungan. Dari pada punya rumah, tapi tidak bahagia, tidak menjadi surga buat penghuninya.

Tulisan ini dibuat diiringi rintik hujan sore di bulan April, ditemani secangkir teh hangat dan goreng pisang buatan istri tercinta. Sambil sesekali melihat si sulung mengajari adiknya membaca.

Ya Rabb, tak ada sesuatupun yang terasa nikmat kecuali dilalui dengan rasa syukur. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu pandai bersyukur akan karunia yang Engkau berikan. Aamiin