2

10 Kiat Mengenalkan Fungsi Uang Kepada Anak

fungsi uang
Tuturahmad.com – Salah satu permasalahan yang biasa terjadi antara anak dan orang tua (terutama ibu) dalam sebuah keluarga adalah uang jajan. Mulai dari jumlah, kapan memberikan, untuk apa, dan ketentuan lainnya yang memang sulit terjadi kemufakatan antara anak dan orang tua.
 
Fakta yang tak terbantahkan adalah sebagian besar kita, orang tua, kadang begitu gamang menghadapi persoalan ini. Berbagai keraguan bergayut dalam pikiran kita. Kapan sebaiknya uang jajan diberikan? Berapa banyaknya?
 
Jika sudah begini sering terjadi salah komunikasi yang fatal antara orang tua dengan anak. Anak membutuhkan uang jajan, sementara orang tua takut-takut memberikannya.
 
Persoalannya sekarang adalah bagaimana caranya agar anak-anak mengenal fungsi dan makna uang dengan baik? 
 
Kenalkan Fungsi Uang Kepada Anak
Membangun fungsi uang kepada anak, termasuk di dalamnya mengenalkan nilai uang, bagaimana belanja yang benar, bagaimana menggunakan uang saku, tabungan, dan sebagainya. Tujuan pengenalan ini adalah agar anak dapat bersikap benar dalam menggunakan uang dalam kehidupan sehari-hari.
 
Rasulullah saw. Memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Hal ini dapat terlihat dari pengarahan-pengarahan yang beliau berikan kepada anak. Bahkan beliau sendiri telah ikut berdagang dan mengelola uang sejak kecil ketika diajak pamannya berdagang.
 
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. Berpapasan dengan Abdullah bin Ja’far, anak paman nabi, yang sedang berjualan dengan anak-anak yang lain. Kemudian beliau mendoakannya,” Ya Allah, berkahilah ia dalam dagangannya.” Rasulullah saw. Tidak malu melihat sepupu kecilnya berdagang dan beliau malah mendoakannya.
 
fungsi uang
Berikut ini ada 10 kiat mengenalkan fungsi uang kepada anak yang bisa dipraktekan para orang tua kepada anaknya.
 
1. Fahami Situasi dan Usia Anak
Kebanyakan anak uasia 2,5 sampai 5 tahun belajar atau beranggapan bahwa belanja adalah untuk memperoleh permen, makanan ringan, mainan, buku mewarnai, boneka, dan lain sebagainya. Setelah usia mencapai 4 dan 5 tahun, keinginan semakin bertambah dan biasanya disertai dengan tangisan memilukan.
 
Di saat seperti ini orang tua biasanya menyerah dan akhirnya mengabulkan keinginan si anak. Ada beberapa hal yang bisa orang tua lakukan; 
  1. 1. Berikan aturan kepada anak setiap kali kita hendak berbelanja. Tanpa mengurangi kebahagiaan saat berbelanja, katakan pada anak belilah barang yang telah disepakati bersama.
  2. 2. Katakan pada anak bahwa yang akan dibeli hanya yang tercatat di daftar belanjaan ibu saja. Memahami apa dan bagaimana keperluan orang tua ketika belanja bersama di pasar, adalah hal lain yang penting diketahui anak.
  3. 3. Berusaha konsisten jika anak meminta ini dan itu. Ini penyakit ketika anak ikut belanja bersama. Berusahalah tegas pada peraturan semula. Kalaupun memang ada hal yang dibutuhkan dan mesti dibeli, segeralah komunikasikan dengan si anak.
  4. 4. Percepat belanja dan segeralah pulang. Jika kita menyerah sekarang, kita akan mengalami kesulitan di masa yang akan datang. Inilah salah satu tanda dan situasi yang dapat kita lihat bahwa sudah waktunya anak diajarkan mengenal uang sejak dini.
2. Memberikan Uang Saku
Pemberian uang saku hendaknya mulai diberlakukan ketika anak mulai memiliki kebutuhan untuk membeli ini dan itu di toko. Besarnya uang saku hendaknya disesuaikan dengan kemampuan si orang tua. Sangat tidak baik jika orang tua memberikan uang dalam jumlah besar kepada anak.
 
Mulailah dengan nominal yang kecil, Rp 4000 misalnya. Ketika memberikan uang saku tersebut, ajak dialog si anak untuk membantu memberi pemahaman akan penggunaan uang tersebut. Berapa buat jajan, berapa buat nabung, dan berapa buat infak/sedekah.
 
3. Bijak Menghadapi Permintaan Anak
Dengan bertambah besarnya anak, permintaannyapun semakin meningkat. Baik bentuk, harga, dan banyaknya. Permintaan yang tadinya hanya sekedar panganan kecil berubah menjadi barang-barang yang mahal. Sering kali kita tidak tega untuk menolaknya dan mencoba untuk memenuhinya.
 
Masalah akan timbul ketika orang tua sedang tidak punya uang kemudian anak meminta dibelikan sesuatu yang mahal maka yang terjadi adalah orang tua akan marah, mengkritik, dan bahkan menceramahi si anak.
 
Ada dua hal yang mestinya dilakukan si orang tua dalam menghadapi situasi seperti ini. Pertama, berikan waktu kepada si anak untuk memahami nilai uang. Karena tujuan kita adalah bagaimana anak dapat mengendalikan pengeluaran uang dan bukan dikendalikan oleh uang.
 
Kedua, tanamkan pemahaman dan tanggung jawab penggunaan uang. Sehingga ketika si anak dewasa kelak dia bisa mengerti dan bertanggung jawab atas uang yang diberikan dari orang tua atau dari hasil jerih payahnya.
 
4. Berikan Uang Tambahan Atas Tugas yang Diselesaikan Anak
Pemberian uang tambahan ini sebagai “bayaran” atas tugas yang diberikan orang tua di rumah. Beri pengertian kepada anak bahwa uang yang Anda berikan bukan uang saku. Uang saku merupakan salah satu alat atau cara untuk mengenalkan nilai uang pada anak. Sedangkan uang tambahan bertujuan untuk mengajarkan anak cara halal mencari tambahan uang saku.
 
Yang harus diperhatikan orang tua adalah, jika ingin memberikan uang tambahan maka tentukan dahulu berapa kita akan membayar hasil kerja si anak. Jangan terlalu murah tapi jangan juga terlalu mahal untuk pekerjaan yang tidak dikerjakan dengan baik.
 
Catatlah pekerjaan yang telah dikerjakan anak dan berikan uang yang dijanjikan segera setelah pekerjaannya selesai.
 
5. Buatlah 3 Macam Tabungan
  1. 1. Tabungan Jangka Pendek. Dikhususkan untuk keinginan dan kebutuhan segera. Untuk simpanan ini biarlah anak yng memutuskan akan membeli apa.
  2. 2. Tabungan Jangka Panjang. Dapat ditabung di bank dengan menggunakan buku tabungan atas nama orang tua dan anak. Simpanan ini bukan untuk tabungan kuliah tapi untuk membeli keinginan atau keperluan anak yang harus diputuskan bersama orang tua.
  3. 3. Tabungan Untuk Infak/Sedekah. Tabungan ini adalah untuk mengajarkan anak bahwa di dalam uang kita ada hak orang lain, yaitu fakir miskin. Jadi sejak kecil si anak sudah diajarkan untuk tidak pelit berzakat, sedekah, dan infak.

fungsi uang

6. Ajarkan Anak Mencatat Pengeluaran dan Melaporkannya.
Ajarkan anak untuk mencatat semua pengeluarannya. Hati-hati jangan sampai mengomentari pengeluaran anak yang menurut kita pemborosan. Tanda tangani saja laporannya dan tuliskan pesan misalnya cobalah untuk lebih hati-hati dan memikirkan dahulu  sebelum membelanjakan uang.
 
Hal ini akan mendorong anak untuk jujur dan mengetahui kesalahannya. Insya Allah mereka akan terus memperbaiki perilakunya.
 
7. Hindari Menyogok dengan Uang Saku
Menggunakan uang saku untuk membuat anak mengerjakan tugas rutin sebagai anggota keluarga bukan sikap yang tepat. Misalnya meminta anak untuk membereskan tempat tidur dengan iming-iming penambahan uang saku.
 
Jika kita menyogok anak untuk mengerjakan tugas rutin sehari-hari dengan uang saku, semakin besar anak akan terus menuntut orang tua untuk memberikan uang yang lebih banyak. Pada akhirnya, anak tidak belajar untuk bertanggung jawab sebagai anggota keluarga.
 
8. Evaluasi Kenaikan Uang Saku
Ajarkan kepada anak bahwa kenaikan uang saku itu dapat dibicarakan dan dinegosiasikan. Biasanya waktu yang tepat untuk membicarakan kenaikan uang saku pada rapat keluarga. Dan ajarkan juga kepada anak untuk mampu memberikan bukti bahwa anak butuh uang saku lebih banyak.
 
Berikan penghargaan ketika anak mampu mengatur keuangannya dengan baik. Memberikan perhatian khusus ketika anak sudah menunjukkan kemampuan untuk menggunakan uang dengan bijak.
 
Sesekali berikan semangat pada anak dan katakan bahwa tidak semua yang dibeli teman harus kita beli juga kalau kita tidak membutuhkannya. Hal ini dilakukan guna mengajarkan kepada anak perbedaan kebutuhan dan keinginan sejak dini sehingga setelah dewasa anak sudah mampu belajar menahan diri.
 
9. Berikan Uang Saku Sesuai Usia
Memberikan uang saku sebaiknya disesuaikan dengan umur anak. Memang akan ada perasaan tidak adil di hati orang tua ketika memberikan uang saku yang berbeda. Tapi makna adilpun bukan berarti harus sama dalam jumlah. Adil dalam hal ini adalah sama-sama diberi tapi dengan jumlah yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
 
Berapa jumlah uang saku yang harus diberikan sangat tergantung dari penghasilan keluarga dan apa saja kebutuhan anak yang harus dibayar sendiri oleh anak.
 
10. Beritahu Anak Pengeluaran Orang Tua
Anak-anak yang sudah mengerti harga sebuah mainan adalah anak yang sudah siap untuk memahami sedikit tentang pengeluaran keluarga. Misalnya ketika belanja dengan ibunya, tagihan telepon, tagihan listrik, dan pengeluaran bulanan lainnya.
 
Jangan ragu untuk menyerahkan bon-bon kepada anak untuk dihitung pengeluarannya, misalnya ketika makan ke luar di restoran atau ketika membelikan buku dan mainan.
 
Jangan buat anak tertekan dengan pengeluaran yang kita lakukan. Atau memberikan nasihat panjang lebar agar dia berhemat. Tujuannya agar anak menjadi tahu berapa beban pengeluaran keluarga per hari.
 
Membicarakan uang dengan anak memang susah-susah gampang, perlu kesabaran ekstra dalam menjelaskannya. 10 Kiat Memperkenalkan Fungsi Uang Kepada Anak hanyalah sebagian kecil dari cara-cara lain yang bisa orang tua coba. Semoga bermanfaat.

Tanda Tangan Ahmad

0

Kalahkan Pokemon Go Dengan Permainan Tradisional

tuturahmad.com – Ini berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya, tentang permainan Pokemon Go. Tidak memperbincangkan segala kontroversinya, tapi saya menyoroti teknologinya secara umum. Ya, betapa teknologi telah meracuni mereka. Teknologi telah merenggut anak-anak dari budaya mereka, termasuk permainan.
 
Coba saja tanya mereka, apakah mereka tahu permainan gasing, petak umpet, congklak, gobak sodor, lompat tali, bebentengan, adu kelereng, egrang, atau bekel? Pasti mereka tidak tahu. Anak-anak sekarang lebih familiar dengan permainan yang terinstal di smartphone mereka semacam Plant vs Zombie, Clash Royale, Alto’s Adventure, Angry Birds, Clash of Clan, Getrich, Rayman Adventures, dan yang terakhir dan booming; Pokemon Go.
 
Permainan  tradisional adalah permainan anak-anak zaman dulu yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Kebanyakan permainan tradisional dilakukan dengan cara berkelompok. Ini dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat zaman dulu yang banyak mengarahkan dan menuntun anak-anak pada kegiatan sosial dan kebersamaan yang tinggi.
permainan tradisional lebih baik dari pokemon go
Permainan tradisional merupakan kekayaan budaya lokal yang seharusnya dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani  dan karakter anak, tapi justru tergeser dengan munculnya berbagai permainan yang dapat diunduh secara online di komputer atau gadget.
 
Orang-orang zaman dulu tidak sembarangan dalam menciptakan aneka permainan bagi anak-anak mereka. Permainan yang tercipta tentunya sarat makna dan nilai-nilai budaya  yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.
 
 
Sedangkan aneka permainan yang berbasis teknologi dan sekarang marak diunduh via smartphone adalah permainan yang tidak berdasarkan budaya. Kalau pun ada yang berbasis budaya, maka budayanya sangat tidak sesuai dengan budaya dan karakter kita.
 
Minim Narasumber
Meski begitu kita tidak seharusnya menyalahkan anak-anak kita atas ketidaktahuan mereka dengan aneka permainan tradisonal itu. Ada faktor yang menyebabkan kenapa permainan tradisional tidak populer di dunia anak-anak sekarang. 
 
Menurut Zainal Alif dari Komunitas Hong, tidak adanya nara sumber (orang tua atau dewasa) yang mengajari mereka permainan tradisional dan keterbatasan bahan-bahan yang digunakan adalah faktor penyebabnya.
permainan tradisional lebih baik dari pokemon go
 
Para orang tua zaman sekarang kebanyakan adalah para pekerja yang banyak kesibukan. Pemberian smartphone atau gadget dianggap lumrah sebagai konpensasi mereka akan ketiadaan waktu bersama anak-anak. Ini pula faktor yang menyebabkan anak-anak lebih akrab dengan permainan modern daripada permainan tradisional.
 
Nilai Positif Permainan Tradisional
Banyak nilai-nilai positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional yang bisa menjadi dasar pembentukan karakter anak. 
  1. Anak mudah beradaptasi, imajinatif dan kreatif
  2. Melatih ketrampilan sosialisasi dan negosiasi 
  3. Mensimulasikan peran sosial dalam masyarakat
  4. Membiasakan aktivitas fisik
  5. Belajar menerima kekalahan dengan lapang dada
Nah, menimbang begitu besarnya manfaat permainan tradisional buat anak mungkin kini saatnya para orang tua untuk mulai mengajarkannya kepada anak-anak Anda. Ya, sekaligus bernostalia, mengingat masa-masa kecil dulu. Menyenangkan bukan?
 
Dengan menceritakan dan mengajarkan aneka permainan tradisional pada anak-anak maka kita telah melakukan tiga hal sekaligus. Pertama, melestarikan budaya bangsa. Kedua, membentuk jiwa,  dan karakter anak dengan “ruh” bangsa sendiri, dan Ketiga mempererat hubungan anak dn orangtua yang terenggut dengan smartphone dan gadget.
 
Siapa tahu dengan permainan tradisional ini Pokemon Go dapat terkalahkan!
 
Apa saja permainan tradisional yang Anda tahu? Berbagi yuk!
2

Pokemon Go. Negatif vs Positif dan Keresahan Orang Tua

tuturahmad.com – Beberapa waktu belakangan ini kita banyak dihebohkan dengan pemberitaan tentang Pokemon Go. Apa itu Pokemon Go?  Pokemon Go adalah sebuah permainan realitas dalam Android yang dikembangkan oleh Niantic, sebuah perusahaan sempalan milik Google. Meski saat ini versi resminya baru terbatas di negara seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru dan Jerman.
 
Di Indonesia Pokemon Go sebenarnya belum rilis, tapi sebagaian orang sudah ada yang bisa memainkannya. Mereka dapat mengunduhnya dari situs-situs aplikasi dan game.
 
Konon dalam 24 jam setelah rilis, Pokemon Go mampu meraih posisi Top Grossing (Paling Populer) di klasemen App Store. Pokemon Go juga menjadi game tercepat untuk masuk jajaran atas pada App Store dan Google Play, mengalahkan Clash Royale. Pada tanggal 13 Juli 2016 saja, Pokemon Go telah diunduh sebanyak 15 juta kali!
 
Negatif vs Positif
Setiap sesuatu yang dihasilkan baik itu produk fisik atau sebuah keputusan pastinya akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, tak terkecuali Pokemon Go.
 
Ada yang menilainya dari kacamata agama, psikologis, sosial, kesehatan, maupun bisnis. Sah- sah saja sih, setiap orang bebas menilai dan berargumen sesuai cara pandang dia terhadap masalah itu.
 
Bagi orang yang berpandangan negatif maka Pokemon Go akan dilihat jauh dari kata manfaat, baik bagi kesehatan, psikologi, sosial, terlebih manfaat secara religiusitas. 
 
Memang apa manfaatnya sih, jalan ke sana ke mari, grusak grusuk mantengin Hape nyari-nyari monster? Yang jelas itu membahayakan, apa lagi kalau nyari monsternya di jalan raya. Secara produktifitas kerja, para pencari monster itu jauh dari kata produktif. Dari sisi agama apa lagi, mereka menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia, tidak syar’i, belum lagi tokoh-tokoh Pokemon jauh dari Islami dan banyak menampilkan simbol Zionis.
 
Bermain Pokemon Go dalam waktu lama sangat tidak baik bagi kesehatan dan psikologis seseorang. Seorang yang terlalu lama bermain Pokemon Go akan mengalami penurunan kecerdasan, kehilangan kepekaan sosial,etika dan empati, abai dengan hal lain, emosi yang tidak stabil, dan kelelahan.
 
Menurut pengamat sosial dari UGM Derajad Widhyarto, wabah Pokemon Go menimbulkan efek Pseudo Sosial yaitu sebuah keadaan yang membuat orang seolah-olah berinteraksi sosial padahal kenyataanya tidak.
 
Bayangin aja, meski yang memainkannya banyakan, hilir mudik orang, apakah mereka saling kenal dan berinteraksi? Tidak. Mereka fokus pada smartphone mereka masing-masing.
 
Lain yang negatif (tidak suka) maka lain lagi dengan yang positif (suka). Bagi orang-orang yang menyukai game Pokemon Go mereka pun memiliki segudang alasan kenapa mereka menyukai game ini.
 
Game Pokemon Go bukanlah bentuk game yang mengajak pemainnya diam duduk dan mengurung diri di kamar. Permainan ini mengajak pemainnya aktif berjalan dan menjelajah di luar ruangan guna menangkap monster. Berjalan merupakan aktivitas fisik yang dapat berdampak positif bagi kesehatan manusia secara keseluruhan.
 
Bagi penderita stress dan depresi, Pokemon Go setidaknya bisa dijadikan terapi dalam mengurangi gejalanya. Penderita depresi biasanya merasa tidak dapat bersatu dengan lingkungan sosial mereka, akan tetapi dengan memainkan Pokemon Go mereka akan dapat memulai berinteraksi dengan orang lain. Bisa dengan bertanya kepada pemain lain tentang cara memainkannya atau strategi menangkap sang monster.
 
Hal itu bisa disebut sebagai terapi perilaku Kognitif dimana pola pikir individu dapat merubah perilaku orang tersebut. Orang yang depresi pada dasarnya cenderung pemalu, dengan ikut bermain Pokemon Go maka ia akan terpancing untuk memulai pembicaraan baru dan itu merupakan hal positif bagi kehidupan sosialnya.
 
Dengan berjalan-jalan di luar ruangan mencari monster mampu meringankan beban pikiran, setidaknya mampu mengalihkan pikiran dari permasalahan yang ada; beban hidup, pekerjaan, kesenjangan sosial, dan lain sebagainya.
 

Pokemon Go mungkin digandrungi bukan karena kecanggihan teknologinya, tapi karena menawarkan realitas baru yang menyelamatkan kita dari jerat rutinitas yang membosankan.

Bagi anak-anak, bermain Pokemon Go dengan waktu yang terkontrol mampu memberikan efek positif bagi perkembangan anak. Anak akan lebih bersemangat dalam mencapai kemenangan. Memiliki strategi dalam pemecahan masalah, dan kepercayaan diri dalam berinterkasi dengan lingkungan sosialnya.
 
Sikap Orang Tua
Saya sendiri sebagai orang tua lebih memilih toleran. Toleran disini bukan berarti memberikan kebebasan tapi memberikan kesempatan dan waktu bermain (termasuk Pokemon Go) dengan pengawasan atau kontrol. 
 
Pendampingan orang tua saat anak-anaknya bermain game di gadget sangat diperlukan. Ada hal-hal, seperti karakter, aturan main, dan cara bermain yang perlu penjelasan dari orang dewasa terhadap mereka. Biar bagaimanapun anak-anak kita sedang memainkan peran dalam dunia yang tidak nyata.
 

Biarkan mereka tahu dan mencoba sesuatu yang memang hadir di masanya selama itu tidak membahayakan mereka secara fisik dan akidah.

 
Adanya pro dan kontra Pokemon Go bisa dijadikan bahan diskusi antara kita sebagai orang tua dan anak-anak. Jelaskan kepada mereka kenapa banyak yang menolak dan kenapa banyak pula yang menyukainya. Biarkan mereka menilai dua kubu yang bersebrangan ini. Meski pemahaman akhir kitalah yang menentukan.
 
Yang perlu dilakukan oleh kita, saya misalnya, adalah memastikan lokasi tempat bermain Pokemon Go yang aman, sudah dikenali, dekat dengan rumah, dan bermain bersama-sama orang yang sudah dikenal.
 
Selanjutnya adalah batasan waktu. Saya akan membatasi waktu bermainnya tidak lebih dari dua jam. Karena kalau lebih dari dua jam akan sangat tidak baik bagi mereka.
 
Mendampingi mereka bermain, memberikan batasan waktu untuk bermain dan mengingatkan mereka bahwa masih ada kegiatan lain yang lebih penting dari Pokemon Go setidaknya lebih bijaksana ketimbang kita melarang mereka melakukan seuatu tanpa alasan yang jelas.
 
Kesimpulan
Apapun jika dilakukan secara berlebih maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Pun begitu dengan game Pokemon Go.
 
Membiarkan anak-anak kita memainkannya dengan bebas, tanpa bimbingan atau pengawasan, dan tanpa batasan waktu akan sangat membahayakan baik terhadap kesehatan, fisik, mental, kecerdasan, emosi dan kehidupan sosialnya.
 
Begitupun sebaliknya, jika kita mengekangnya, melarangnya tanpa mau menerangkan apa penyebab kita melarangnya maka akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan mereka kepada kita, sikap memberontak, dendam, berbohong, dan tidak percaya diri.
 
Dampingi putra dan putri kita dalam tumbuh kembangnya bersama dunia yang memang berbeda dengan dunia kita dulu. Jangan paksa mereka melakukan apa yang kita lakukan dulu. Dunia bergerak maju, bukan mundur.
 
Ikuti perkembangan teknologi sehingga kita akan lebih tahu dari mereka, sehingga kita bisa membimbing mereka dengan benar.
 
Dan yang tidak kalah penting adalah menciptakan kegiatan-kegiatan positif dalam keluarga. Misalkan; memasak bersama, menghafal Al Quran bersama, berkebun, hikking, dll. 
 
Anak-anak yang disibukkan dengan kegiatan positif insya Allah tidak akan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak berguna.
 
Selamat menjadi orang tua super!
2

Mengenalkan Halal Pada Anak Sedini Mungkin

Mengenalkan kata halal kepada anak baiknya dilakukan sedini mungkin. Halal yang dimaksud meliputi definisi, zat, proses, dan cara memperolehnya. Hal ini saya rasa sangat penting mengingat perilaku anak yang sering membeli makanan secara sembarangan hanya berdasarkan kemasan yang menarik.

Sebagai orang tua dari keluarga muslim, saya berpikir persoalan halal dan haram bukan saja masalah akidah atau keyakinan semata tapi juga jaminan kesehatan dari zat yang dikandung, proses pembuatan, dan cara memperolehnya.

Memperkenalkan kata halal sendiri saya mulai dari anak pertama. Waktu itu si sulung baru berumur tiga tahun. Sudah mengenal kebiasaan jajan di warung samping rumah bersama saudara dan teman-temannya. Mulanya saya atau istri menemani guna memandu dia dalam memilih jajanan yang disuka. Kalau anak sudah memilih, terutama jajanan keluaran pabrik, saya selalu nanya; ada cap halal-nya enggak? Dia seketika bertanya, apa cap halal itu. Itulah momen yang memang kami tunggu. Saya dan istri menerangkan apa arti halal itu, tentunya dengan bahasa anak yang bisa dipahami kala itu. Bahwa halal itu artinya boleh atau baik, dan sehat. Bahan yang dijadikan makanannya bukan hasil curian, tidak kotor, dan tidak membahayakan. Makanya dicap oleh pemerintah.

Memang tidak semua jajanan anak memiliki cap halal, terutama jajanan hasil olahan industri rumahan. Kami memaklumi itu, sudah jadi rahasia umum kalau masalah cap/logo halal sekarang sudah dikomersilkan. Sebuah merk makanan untuk dapat logo halal konon butuh proses panjang dan dana yang lumayan.

Tapi minimal saya tekankan ke anak saya, ambilah makanan yang bercap/logo halal. Itu untuk jajanan pabrikan, biasanya ini berlaku jika kami belanja di supermarket. Tapi jika jajan di warung sebelah dan yang diambilnya adalah jajanan kue rumahan kami hanya menganjurkan pilih yang bersih saja. 

Setiap orang tua pasti punya cara sendiri mengenalkan halal pada anak-anaknya. Ada beberapa cara yang bisa dipraktekan, setidaknya ini yang kami lakukan kepada anak-anak.

1. Mengenalkan Label Halal Pada Kemasan Makanan
Seperti yang sudah saya ceritakan di atas. Biasakan membeli makanan yang ada logo halalnya. Baik itu jajanan ringan, snack, ataupun ketika kita memilih tempat makan berupa rumah makan atau resto.

2. Mengenalkan Kandungan Zat Pada Makanan
Ini tantangan buat orang tua. Sejauh mana kita orang tua menggali informasi zat-zat apa saja yang masuk kategori haram, terutama yang berbasis hewani. Gelatin misalnya, zat ini banyak terkandung di makanan kemasan. Kita tinggal lihat apakah gelatin dari sapi atau babi.

3. Menunjukkan Makanan dan Minuman Haram 
Saat mengajak anak berbelanja di supermarket, kenalkan anak pada makanan dan minuman yang tidak halal (haram). Ada kemasan kaleng daging babi, atau minuman beralkohol misalnya. Terangkan kenapa dua makanan dan minuman itu haram/tidak halal.

4. Mengunjungi Pameran Produk Halal/Halal Fest
Sekali-kali ajaklah anak dan keluarga ke acara pameran produk halal atau halal fest. Di tempat tersebut anak-anak akan melihat banyak makanan halal dan sudah memiliki sertifikat halal. Tentunya ini dapat menambah wawasan anak, dan membiasakan anak dalam memperhatikan makanan halal.

5. Bacakan Ayat Al Quran dan Hadits Mengenai Makanan Halal
Mengenalkan halal dan haram pada makanan bisa dengan mengenalkan dalil-dalil yang bersumber dari Al Quran dan hadits nabi. Ajaklah anak untuk membaca, mengkaji, atau menghafalkan ayat atau hadits yang berkenaan dengan kehalalan makanan dan minuman. Surat Al Maidah ayat 3 misalnya.

6. Mengenalkan Halal Melalui Cara Mendapatkannya
Halal tidak semata dilihat dari zatnya saja tapi juga dari cara memperolehnya. Katakan kepada anak bahwa jika secara zat makanan itu halal tapi kemudian kita mencurinya maka makanan itu jadi haram untuk dimakan.

7. Ajak Anak Untuk Mengikuti Info Halal
Ada banyak informasi yang kita bisa dapat tentang halal, baik dari media massa maupun internet. Kita bisa ajak anak untuk mencari informasi halal melalui internet. Kita bisa buka situs www.halalguide.com, www.halalmui.org misalnya. Di situ ada berbagai merk makanan yang telah memiliki logo dan sertifikat halal. 

Dengan mengenalkan halal dan haram sedini mungkin pada anak diharapkan akan terlahirnya generasi yang memiliki jiwa dan tingkah laku yang bersih, serta berakhlak mulia. Aamiin