Review

Film Wiro Sableng  Sukses Membuat Orang Bangga Jadi Sableng

Sableng adalah kata lain dari gila atau tidak waras. Orang biasanya akan ogah disebut sableng. Namun, tanggal 30 Agustus kemarin kami (saya dan teman-teman kantor) sangat senang jadi bagian dari #HariSablengNasional. Ya, kami jadi sableng sebelum dan sesudah nonton film legendaris Wiro Sableng, Pedekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Film Wiro Sableng Pedekar Kapak Maut Naga Geni 212 resmi diputar pada akhir Agustus tersebut. Film ini diadaptasi dari novel yang begitu legendaris, sangat terkenal, terutama di era 80-90 an. Wiro Sableng ditulis oleh Bastian Tito, ayah kandung dari Vino G. Bastian, pemeran Wiro di filmnya kini.

Kami serombongan dari kantor, secara kami adalah ‘anak-anak’ era 70-80-an yang memang ngerti dan tahu betul siapa itu Wiro Sableng. Dana buat nonton pun ditraktir oleh atasan kami yang memang Sablengers (fans Wiro Sableng) juga. Jauh-jauh haripun kita sudah saling mengingatkan; siap-siap Sableng yuk akhir Agustus. Hehehe.

Jujur saja, saya merasa excited jelang diputarnya film ini. Saya, sebagaimana generasi ’80-an lainnya, pernah merasakan masa emasnya novel Wiro Sableng, Pedekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini. Tidak hanya membaca, bertukar buku, bahkan saya pun sempat mengoleksi ratusan judul novel silat ini dari kurun waktu tahun 1994-1997.

Ga nyesel lihat ni film

Tahun 90-an bahkan di sekolah-sekolah SMP waktu itu sampai diadakan operasi penggeledahan kepada para siswa untuk ‘memberantas’ peredaran novel Wiro Sableng, saking mewabahnya. Hehehe. Enggak membahayakan sih, cuman emang mengganggu jam pelajaran aja. Bagaimana tidak, saat jam pelajaran banyak siswa yang tiba-tiba jadi generasi nunduk. Setelah diteliti ternyata dia lagi baca novel Wiro Sableng yang disimpan di pangkuan. Bacanya sambil senyam-senyum pula. Dasar sableng!

Hasil dari razia tersebut, saya lihat sendiri, terkumpul ratusan novel Wiro Sableng berbagai judul. Diangkutlah ke ruangan BP. Eh, ternyata eh ternyata, selama beberapa hari novel-novel tersebut dibaca pula oleh guru-guru. Seminggu kemudian itu novel dibagikan lagi kepada para siswa. Hehehe, Sableng ga sih?

Film Wiro Sableng Agustus ini sejatinya bukanlah film pertama di layar lebar. Ada beberapa judul yang sudah difilmkan sebelumnya, tapi dengan kualitas yang pastinya jauh berbeda. Namun, pada masanya film tersebut cukup berkualitas.

Yang saya ingat judul Wiro Sableng yang pernah difilmkan adalah Rahasia Lukisan Telanjang, Sepasang Elmaut Kuning, 4 Brewok Goa Sanggreng, dan Siluman Teluk Gonggo. Itu yang saya ingat sih.

Dijamin jadi Sableng semua

Wiro Sableng jadi tontonan yang menarik saat RCTI menjadikannya tayangan serial. Kenken yang memerankan Wiro Sableng sukses membuat serial ini jadi tontonan favorit remaja dan anak-anak kala itu. Kenken-lah pemeran Wiro yang paling mengena.

Memuaskan, Tapi Masih Ada Catatan

Kembali ke masalah filmnya di tahun ini. Hadirnya (kembali) Wiro Sableng dalam versi layar lebar sangat dinanti oleh para penggemarnya. Ada banyak faktor kenapa film Wiro Sableng begitu dinanti. Padahal bersamaan dengan itu ada film lain yang tak kalah apiknya,sebut saja Sultan Agung dan Si Doel The Movie. Tapi, Wiro Sableng yang memang telah memiliki basis massa tentu dong menang banyak. Hehehe.

Selain banyak penggemar faktor lain kenapa begitu dinantikan adalah rasa penasaran dari para penggemar tadi terhadap pemain, cerita, dan kualitas dari film tersebut.

Saya yakin setiap pembaca Wiro Sableng pasti memiliki imajinasi sendiri-sendiri dalam menggambarkan Wiro dan tokoh-tokoh yang lainnya juga alur cerita. Apakah pemain dan ceritanya sama tidak dengan bukunya? Sama tidak dengan imajinasinya? Ini yang membuat generasi Wiro Sableng berbondong-bondong ke bioskop.

3 pemeran perempuan, tanpa Anggini (Sherina)

Penilaian saya sendiri dengan film ini adalah Two Thumbs Up. Bagus banget. Keren.  Para bintang yang memerankan tokoh bisa dibilang cukup sukses mewujudkan imajinasi pembaca setia. Efek filmnya juga sangat bagus. Wajar sih, ni film hasil kerja sama dengan 20th Century Fox.

Meski demikian tiada yang sempurna,- atau memang sekali lagi ini maslah imajinasi-, ada beberaha hal yang menurut saya pribadi sedikit, sedikit lo ya, kurang pas. Misalnya masalah jurus dan ajian Wiro Sableng, sedikit yang dieksplor.

Ajian Pukulan Sinar Matahari pun penggambarannya kurang ya. Dalam novelnya, ketika Wiro merapal mantra ajian itu maka tangan Wiro dari jadi hingga siku berubah warna jadi perak. Ketika tangannya dipukulkan maka akan berkiblat cahaya panas menyilaukan.

Terus kapak maut naga geni. Suara seperti ribuan tawon mengamuk hanya keluar jika kapak tersebut diayunkan atau disabetkan dalam pertarungan. Dalam film ini, suara ribuan tawon justru keluar ketika gagang kapak ditiup. Perasaan kebiasaan ini tidak ada deh di novelnya.

Kostum terlalu rapi dan necis untuk ukuran sebuah kisah dari masa lalu. Bagus sih, detil. Cuman lebih bagusnya lagi disederhanakan. Banyak yang bilang, pakaian Wiro lebih mirip pakaian atlet karate dibanding seorang pendekar silat yang hidup di abad –abad lalu.

Ada gerakan pertarungan yang masih tampak seperti sebuah koreografi. Belum tampak cepat dan gesit layaknya para pendekar pilih tanding. Mungkin bisa ditambah efek speed dalam gerakannya.

Lahirkan Idola Baru

OVERALL. Film ini luar biasa. Film Wiro Sableng kali ini melahirkan idola baru bagi pecinta film. Bagi saya sendiri Rara Murni (Aghniny Haque) dan Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) tampil bagus dan…cantik. Hehehe. Di lini masa juga banyak yang tetiba mengidolakan mereka. Aghniny Haque ternyata memang dia atlet taekwondo, pantes gerakan bertarungnya tampak tidak kaku. Paras cantik dan tubuh bagusnya kini jadi idola kaum Adam. Lain kali, saya akan bahas Aghniny Haque lebih detil ah. Hehehe.

bidadari angin timur
Bidadari Angin Timur dan Rara Murni. Cantik

Di Novel Wiro Sableng sendiri ada banyak tokoh unik dan identik. Dalam film perdana ini baru bebrapa yang keluar. Anggini, Dewa Tuak, Kakek Segala Tahu, Bidadari Angin Timur, dan Bujang Gila Tapak Sakti. Kelima tokoh ini dalam perjalanan ceritanya akan sering hadir menyertai Wiro.

Sang sutradara, Marsha Timothy, juga mengungkapkan, dari 185 novel Wiro Sableng ternyata ada sekitar 300 karakter di dalamnya dengan jurus yang sangat spesifik. Bentuk fisik yang sangat spesifik, perguruan, dan lain sebagainya.

Jadi hal ini memungkinkan Wiro Sableng bakal ada lanjutannya. Ya bisa jadi mirip universe-nya Marvel dan DC gitu deh. Dan ini sebenarnya udah dikasih clue diakhir filmnya, saat credit title muncul seorang tokoh dengan pakaian hitam-hitam dan ada logo mataharinya. Kita semua nebak itu pasti Pangeran Matahari!

So, mari kita berdoa semoga film Wiro Sableng selanjutnya lancar dan cepat tayang lagi. Kami, para Sablengers akan setia menanti. Hehehehe. Salam Sableng!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *