4

Hadiah Dari Eman

Takada kejadian kebetulan. Semuanya sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Itu mungkin kata-kata Syar’i yang singkat bilamana kita menemukan suatu kejadian yang memancing keheranan kita. Iya, sih. Tapi kadang tetap aja menjadi pemikiran yang mengundang decak kagum, atau malah senyum simpul. 

Persis yang saya alami pagi ini, hari ini. Saya berangkat ngantor dari Lembang, meskipun sudah dua bulan hijrah ke Bandung Kota. Kemarin cuti nganterin Hasya, si sulung ingin liburan di rumah neneknya di kawasan Cikole Lembang. Kami berangkat sekeluarga; saya, istri, Hasya dan Danish. So, saya cuti hari Kamis kemarin.

Kejadiannya bermula Kamis pagi, ketika bersiap berangkat ke Lembang. Eman Sulaeman, sahabat saya yang seorang penulis dan tinggal di Lembang sms,

“ Kang, berangkat jam berapa? Saya mau titip buku buat pak Syamsu”

Sepertinya dia belum tahu kalau saya sudah pindah ke Bandung. Tapi sengaja saya tidak kasih tahu dia, toh sekarang juga saya mau berangkat ke Lembang. Saya balas sms-nya,

“ Besok aja kang, hari ini kebetulan saya cuti”. 

Saya tidak kasih tahu dia, kalau saya cuti ke Lembang dari Bandung.

Singkat cerita, esoknya ketika berangkat ngantor, kami ketemuan di dekat monumen pesawat di bilangan SESPIM. Kang Eman – saya memanggilnya – menitipkan 4 eksemplar buku terbaru dia buat pak Syamsu, dan menghadiahi 2 eksemplar buku dengan judul yang berbeda buat saya. Jatah preman katanya. Hadiah dari Eman

Setelah “transaksi” beres dan mengucapkan nuhun dan salam, sayapun meluncur. Melintasi jalan-jalan yang biasa saya lewati ketika saya masih tinggal di Lembang. Melihat kabut, embun, kebun-kebun sayur, dan eksotisme Bandung dari tanjakan Mekarwangi  yang curam. Nostalgia.

Ternyata, hadiah dari Eman berlanjut di kantor. Meski bentuknya lain, dan si pemberinya lain orang  tapi memiliki sama yang persis; Eman Sulaeman!

Ya, Eman yang ini adalah teman sekantor saya. Dia menghadiahi saya setoples bakso sapi bikinan istrinya. Yummiii… Katanya sih, itu daging sapi kurban Idul Adha kemarin. Tak apalah, asal halal dan ridho yang ngasihnya. Beribu terima kasih saya haturkan.


Buku dan Bakso sapi. Hadiah dari Dua Eman Sulaeman

Sampai di situ, sekitar sejam, saya belum menyadari keajaiban ini – kesamaan nama – si pemberi hadiah. Hingga saya selesai wudhu hendak solat dhuha, baru saya menyadari ternyata kedua nama pemberi hadiah itu sama persis; Eman Sulaeman! Subhanallah!

Kagum bercampur geli, saya jadi senyum- senyum sendiri. Kok bisa ya? Tapi, sebagaimana awal tulisan saya, tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua telah digariskan, semua telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Pun, dengan kejadian pagi ini. Ketika di hari yang sama, di pagi yang sama saya mendapatkan hadiah dari dua orang yang berbeda tapi memiliki nama yang sama persis.

Hingga tulisan ini saya buat, belum banyak hikmah yang bisa saya kuak dari peristiwa lucu nan ajaib ini, selain segalanya telah tertulis di Lauh Mahfuzh, dan rasa syukur memiliki sahabat-sahabat yang baik dan senang berbagi ilmu. Mungkin inilah salah satu nikmat terbesar dalam hidup saya.

Semoga, kebaikan-kebaikan ini akan terus terjalin dan terjadi. Aamiin

Ahmad Andriana

4 Comments

Tinggalkan Balasan