Catatan

Lawan LGBT Dengan PHN

Ini tentang LGBT. Sebuah kata akronim dari Lesbi, Gay, Biseks, dan Transgender. Sebuah kelompok yang beranggotakan orang-orang dengan kelainan orientasi seksual. Gerakannya mulai masiv, menyelusup ke tengah-tengah masyarakat, dengan berbagai cara, dengan berbagai media, dengan berbagai alasan.

Keberadaan dan pergerakannya yang mulai meresahkan mulai mendapat perlawanan dari masyarakat normal, agamawan, politikus, dan lembaga-lembaga parenting. Mereka mulai mengkampanyekan PHN; Perilaku Hidup Normal. PHN adalah lawan dari LGBT.

LGBT NAIK DAUN
Beberapa tahun kemarin pernahkah kita mendengar LGBT? Mungkin hanya segelintir orang yang mendengar dan tahu apa itu LGBT. Tapi sekarang, pasca putusan MA Amerika yang mengesahkan perkawinan sejenis, kaum LGBT di dunia, khususnya di Indonesia seakan menemukan momentum untuk lebih menampilkan diri.

Mereka mulai berkampanye mencari dukungan agar bisa diakui masyarakat dan dilegalkan pemerintah. Mereka mengklaim bahwa keberadaan mereka bukanlah penyakit, mereka hanya memiliki orientasi seks yang berbeda. Dalam sebuah acara di sebuah tv swasta pentolan LGBT menyebutkan bahwa cinta itu tak bergender. jadi tidak harus lelaki mencintai perempuan dan sebaliknya, tapi bisa juga lelaki mencintai lelaki, atau perempuan mencintai perempuan. Gelo!

Kampanye di dunia maya tentang LGBT, baik yang mendukung ataupun yang menolak praktis membuat LGBT naik daun. Yang tadinya LGBT tidak dikenal masyarakat kemudian jadi dikenal dan mengundang penasaran banyak orang, terutama remaja. Di Googletrends sendiri kata LGBT mencapai 100.000 penelusuran per hari.

Ini jelas mengkhawatirkan kita, kampanye penolakan kita teradap LGBT justru semakin melambungkan mereka, dan memasukan kosakata LGBT ke dalam kosakata masyarakat. Bagaimana tidak, saat demo, di media, di sosmed, di tv kita selalu menyebut kata LGBT. Akhirnya masyarakat yang tidak tahupun akan mencari tahu apa itu LGBT. Mending kalau mereka mencari jawaban kepada orang atau media yang tepat bagaimana kalau mereka mendapatkan jawaban dari media atau orang yang mendukung LGBT, atau parahnya bagaimana kalau mereka mendapat jawaban dari penderita LGBT sendiri.

KATA LAWAN DENGAN KATA
Ada perbincangan menarik di grup WA yang saya ikuti. Untuk menghentikan kampanye LGBT jangan lah dengan teriak atau tulisan “Stop LGBT, Tolak LGBT, LGBT Penyakit, dll”. Itu semua hanya akan menambah LGBT jadi trend. Tujuan baik tidak akan berdampak baik jika tidak tepat dalam penyampaiannya. Kenapa? Berikut saya kutip dari grup WA saya.

1. Perulangan Kata di Pikiran kita
Istilah psikologinya adalah afirmasi. Semakin sering menyebut LGBT, kata itu malah semakin tertancap di pikiran pembaca/follower kita. Lama kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan. Ingat iklan di TV:  “Berapa lapis?” Maka, otomatis kita menjawab “ratusan”. Kenapa kok bisa hafal? Karena iklannya dulu diulang terus-menerus setiap hari.

2. Penolakan Yang Bersifat Sementara.
Ingat kasus: Tahun 1998, istilah KKN dipopulerkan oleh aktivis yang teriak-teriak “berantas KKN”. Tagline ini bahkan bisa menggerakan jutaan masa untuk menghentikan pemerintah yang berkuasa 32 tahun. Tapi coba lihat efeknya 18 tahun kemudian. Apakah KKN masih ada? Tentu saja! Beberapa aktivis yang dulu teriak berantas KKN, eh malah sudah ada yang dipenjara karena kasus KKN. 

3. Program Linguistik.
Ini ada hubungannya dengan ilmu linguistik yang memprogram bahasa kita.
Kalau dibilang, “Jangan bayangkan sebuah apel merah!” Maka, otomatis yg pertama kali muncul di pikiran Anda adalah sebuah apel berwarna merah. 

“Gue udah capek hidup susah…” Maka, yang terbayang adalah gambaran keadaan atau perasaan hidup susah.

“STOP LGBT!” Maka, yang terbayang adalah perilaku LGBT. 

Hasil riset Maximilian Riesenhuber, PhD (Kepala GUMC Laboratory for Computational Cognitive Neuroscience) di  Georgetown University Medical Center mengatakan bahwa neuron di otak kecil mengingat sebuah kata beserta ruang lingkupnya dalam area yang disebut “kamus visual”. Semua kata yg kita cerna, akan terekam di kamus visual itu. Dan dalam kajian NLP (Neuro Linguistic Programming), telah dibuktikan bahwa kata-kata yang terlintas di pikiran atau diucapkan dalam hati, secara sadar atau tidak sadar, akan mempengaruhi tindakan kita.

Terus kita mesti gimana?

Kata lawan dengan kata. Masih dari grup WA, kata terbaik untuk melawan LGBT adalah PHN (Perilaku Hidup Normal)Lalu, kenapa harus menggunakan kata PHN?

1. Kita akan menjadi juru kampanye untuk perilaku hubungan normal
Mengapa disebut hubungan normal? Karena untuk kita yg masih percaya nenek moyang kita adalah Adam & Hawa, pasti percaya pula bahwa hubungan yg normal adalah yang terjadi pada Adam & Hawa. Bukan Adam & Jack atau Adam & Michael atau Adam & Udin .

Kalau kita percaya Adam & Hawa itu normal, harusnya kita juga berperilaku normal seperti nenek moyang. Karena  di situlah awal sifat genetik manusia berasal. Bohong kalau ada yg mengatakan, gay itu bersifat genetik. (Yg bilang begitu, bisa jadi nenek moyangnya Adam & Jack. Hehe…)

2.  Menyadarkan Orang lain Untuk Hidup Normal.
Kalau kita sebar Dukung PHN (Perilaku Hubungan Normal, artinya kita mengingatkan orang bahwa perilaku hubungan di luar Pria-Wanita adalah TIDAK NORMAL.

Bukankah tidak ada orang yang suka dibilang tidak normal? Kata-kata normal sengaja dimasukkan ke dalam singkatan ini. Karena semua orang paham apa itu arti kata normal.

3.  Menjadikan PHN Sumber Kajian Baru Masyarakat.
PHN (Perilaku Hubungan Normal) ini ketika dipopulerkan, akan menjadi kajian-kajian baru tentang mengapa harus menikah dengan berlainan jenis. Silakan berikan alasan, refresh lagi indahnya pernikahan & bahagianya berkeluarga.

Para tokoh parenting dan public figure lebih baik jangan hanya menyuarakan ‘ketakutan’ pada LGBT, tapi juga suarakanlah keindahan PHN (Perilaku Hubungan Normal), sehingga generasi muda termotivasi & bangga untuk selalu memiliki PHN. 

Karena itu mulai sekarang, hentikan atau minimal kurangi kampanye anti LGBT, dan gantilah dengan kampanye dukung PHN (Perilaku Hubungan Normal), sehingga orang tua punya panduan dalam mendidik anak untuk memiliki PHN (Perilaku Hubungan Normal). 

Menurut seorang psikolog LGBT itu adalah sebuah penyakit, dan laiknya penyakit maka LGBT bisa disembuhkan. Kalau ada sanak saudara, teman, sejawat yang terindikasi LGBT, bawalah ke psikolog, dan ulama. Psikolog akan mengobati sisi kejiwaannya, dan ulama akan mengobati sisi ruhaninya dan mengembalikan si penderita akan fitrah dirinya.

Ini semua pada akhirnya adalah pilihan… kita mau jadi juru kampanye yang mana? LGBT atau PHN (Perilaku Hubungan Normal)?
Tags :