5

Serunya Mabit Metode TIKRAR.

Apa yang ada di benak kita jika mendengar kata MABIT?
Mungkin langsung teringat masa-masa sekolah dulu waktu jadi ROHIS atau ketika jadi Remaja Mesjid. Nginep di sekolah, baca Al Quran, kajian agama, dsb.

Ya, memang seperti itulah mabit. Mabit adalah salah satu sarana tarbiyah (wasa’iluttarbiyah). Secara bahasa, mabit berarti bermalam.Dalam terminologi dakwah dan tarbiyah, mabit adalah salah satu sarana tarbiyah untuk membina ruhiyah, melembutkan hati, membersihkan jiwa, dan membiasakan fisik untuk beribadah (khususnya shalat tahajjud, dzikir, tadabbur dan tafakkur). Kemudian untuk memudahkan memahami definisi ini, biasanya mabit dijadikan akronim dari MAlam Bina Iman dan Taqwa.

Alhamdulillah, tadi malam saya dan teman-teman kantor, para atasan dan karyawan grup telah “sukses” melaksanakan mabit 😀 Tempatnya di kantor. Meski mabit merupakan acara rutin bulanan kantor kami tapi mabit kali ini berasa special, karena kita mengundang karyawan grup perusahaan dan para atasan, banyakan. Jadi rame dan seru.

Mabit kali ini temanya adalah “ Menyambut Ramadhan dengan Keberkahan METODE TIKRAR”. Selain dalam rangka menyambut Ramadhan, yang insya Allah tinggal beberapa hari lagi, juga dalam rangka praktik atau simulasi Metode Tikrar yang ada dalam Al Quran Hafalan Tikrar, produk terbaru Syaamil Quran yang sedang booming dua bulan terakhir ini.

Kebetulan saya dan teman-teman kebagian jadi panitia (ga kebetulan juga seh, perasaan tiap acara jadi panitia hehehe…). Lumayan riweuh, nyusun acara, bikin desain, dan nge-sett ruangan tempat mabit di sela-sela waktu kerja. Tapi da bawaannya dibikin seneng, ya Alhamdulillah ceria aja para panitia ini. Kitamah gitu orangnya =D

MC: Ust. Yusuf NS

Acara sendiri dimulai dari pukul 18.00, dengan solat maghrib berjamaah. Setelah solat maghrib dilanjut dengan makan malam berjamaah. Menunya semarak; rendang ayam, telor bumbu merah, perkedel, nasi uduk, buah-buahan, dan sebagainya. Ini menu Wahabi =D Sebutan kami untuk kateringnya Ustadz Abdul Wahab =D

Sebelum acara dimulai, makan dulu bro!

Meski ga semua hadir, dari 70 undangan yang hadir sekitar 20-an, suasana tetap semangat dan meriah. Baru juga pembukaan, tim marketing sudah melakukan “bazaar” dadakan. Hasilnya semua mushaf Tikrar yang dibawa ludes diborong peserta mabit, apalagi tim marketing memberikan mushaf Tikrar secara gratis untuk pengambilan pertama dan wajib mengambil mushaf yang kedua dengan membayar setengah harga, alias discon 50%. HEBAATTT!

Kita semua mempraktekan metode Tikrar dengan arahan langsung dari Ustad Abdul Wahab, penanggung jawab materi Mushaf Tikrar. Beliau menjelaskan Metode Tikrar adalah bentuk sistematisasi dari cara menghafal Al-Qur’an paling tua dan yang banyak diamalkan oleh para huffazh (penghafal Al-Qur’an) dari dulu hingga sekarang. Caranya adalah dengan mengajak para pembaca untuk MEMBACA ayat secara berulang-ulang, dengan jumlah pengulangan yang telah ditentukan. Sehingga ketika kita membaca secara berulang  dengan metode Tikrar ini maka tanpa sadar kita telah “menanamkan” apa yang kita baca di alam bawah sadar kita, dan dengan sendirinya kita akan hafal. Tak salah jika tagline Mushaf Tikrar ini adalah Hafal Tanpa Menghafal. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat videonya di SINI.

Ust. Abdul Wahab Lc. sedang menerangkan metode TIKRAR
Dalam suatu riwayat, ketika ditanya tentang kekuatan hafalannya, Imam Al Bukhari menjawab, “Saya tidak menemukan cara menghafal lebih efektif selain dengan cara terus-menerus melihat tulisan dan mengulang-ulang perkataan karena itulah sejatinya hafalan.”

Dari hasilpenelitian kesehatan modern, ditemukan fakta bahwa tikrar (repetition) atau pengulangan itu sangat membantu menguatkan hafalan.Simpulan dari penelitian ilmiah itu adalah,Repetition is the key to memorization. The more you say it, the more likely you’ll remember it.” (Pengulangan adalah kunci untuk hafalan. Semakin sering Anda mengucapkannya, semakin kuat kamu mengingatnya).

Peserta serius mendengarkan

Konon, para santri tahfizh di Masjid Nabawi dan Haram Makkiy juga melakukan tikrar sekurang-kurangnya sebanyak 40 kali pengulangan. Dari dasar itulah, Syaamil Quran merancang  metode menghafal bittikrar yang disatukan dengan mushafnya. Tujuannya agar para pembaca Al-Qur’an bisa hafal AlQur’an tanpa menghafalkannya, dengan syarat metode ini dijalankan dengan sebenar-benarnya. 

Sesuai anjuran ketua panitia, bahwa peserta hanya boleh istirahat bilamana telah menyetorkan 2 maqro hafalan hasil metode tikrar! Nah Lho! Alhasil, setelah selesai penjelasan ustadz Abdul Wahab selesai, semua peserta ambil posisi nyaman untuk  mempraktekan metode Tikrar. Ada yang tetap di ruangan mabit dengan bersandar, ada yang tengkurap. Ada yang kembali ke ruangan kerja, menyendiri supaya khusu’, ada juga yang sambil hilir mudik jalan-jalan sambil murrajaah.

Berbagai posisi peserta dalam mempraktekan metode Tirar

Di ruang kerjapun tak masalah
Dengan metode Tikrar, 1 maqto dibaca berulang sebanyak 40 kali. Satu Maqra terdiri dari 2 maqto, jadi untuk satu maqro dibaca berulang sebanyak 80 kali. Bagi yang belum terbiasa cukup pegal juga nih bibir untuk bisa “ingat” ayat-ayat yang dibaca itu. Tapi dari itu semua kita begitu antusias, semangat dan senang.
Tetap senyum meskipun ngejar 2 maqro
Ibu-ibu ga mau kalah fokus.

Menjelang malam, satu persatu peserta beristirahat setelah setor hafalan hasil metode Tikrar sebanyak 2 maqra. Malam ini mungkin kami hafal beberapa ayat tapi kemudian tidak menjamin besok hari ayat-ayat yang kami baca masih kami hafal. Karena sebagaimana Imam Al Bukhari katakan; membaca berulang adalah salah satu metode menghafal terbaik. Jadi intinya adalah rajin tilawah/membaca Al Quran akan memelihara ayat yang kita hafal sebelumnya.
Para Santri Tikrar Sygma

Patutlah kiranya hadits Nabi ini jadi bahan renungan sekaligus motivasi kita dalam berinteraksi dengan Al Quran;
“Biasakanlah kalian membaca al-Qur’an, Demi Allah yang nyawaku ada ditanganNya, hafalan al-Qur’an itu lebih mudah lepas dari seekor onta dari ikatannya.” (HR Bukhari)
So, yuk membaca Al Quran!

Ahmad Andriana

5 Comments

Tinggalkan Balasan