2

Pokemon Go. Negatif vs Positif dan Keresahan Orang Tua

tuturahmad.com – Beberapa waktu belakangan ini kita banyak dihebohkan dengan pemberitaan tentang Pokemon Go. Apa itu Pokemon Go?  Pokemon Go adalah sebuah permainan realitas dalam Android yang dikembangkan oleh Niantic, sebuah perusahaan sempalan milik Google. Meski saat ini versi resminya baru terbatas di negara seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru dan Jerman.
 
Di Indonesia Pokemon Go sebenarnya belum rilis, tapi sebagaian orang sudah ada yang bisa memainkannya. Mereka dapat mengunduhnya dari situs-situs aplikasi dan game.
 
Konon dalam 24 jam setelah rilis, Pokemon Go mampu meraih posisi Top Grossing (Paling Populer) di klasemen App Store. Pokemon Go juga menjadi game tercepat untuk masuk jajaran atas pada App Store dan Google Play, mengalahkan Clash Royale. Pada tanggal 13 Juli 2016 saja, Pokemon Go telah diunduh sebanyak 15 juta kali!
 
Negatif vs Positif
Setiap sesuatu yang dihasilkan baik itu produk fisik atau sebuah keputusan pastinya akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, tak terkecuali Pokemon Go.
 
Ada yang menilainya dari kacamata agama, psikologis, sosial, kesehatan, maupun bisnis. Sah- sah saja sih, setiap orang bebas menilai dan berargumen sesuai cara pandang dia terhadap masalah itu.
 
Bagi orang yang berpandangan negatif maka Pokemon Go akan dilihat jauh dari kata manfaat, baik bagi kesehatan, psikologi, sosial, terlebih manfaat secara religiusitas. 
 
Memang apa manfaatnya sih, jalan ke sana ke mari, grusak grusuk mantengin Hape nyari-nyari monster? Yang jelas itu membahayakan, apa lagi kalau nyari monsternya di jalan raya. Secara produktifitas kerja, para pencari monster itu jauh dari kata produktif. Dari sisi agama apa lagi, mereka menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia, tidak syar’i, belum lagi tokoh-tokoh Pokemon jauh dari Islami dan banyak menampilkan simbol Zionis.
 
Bermain Pokemon Go dalam waktu lama sangat tidak baik bagi kesehatan dan psikologis seseorang. Seorang yang terlalu lama bermain Pokemon Go akan mengalami penurunan kecerdasan, kehilangan kepekaan sosial,etika dan empati, abai dengan hal lain, emosi yang tidak stabil, dan kelelahan.
 
Menurut pengamat sosial dari UGM Derajad Widhyarto, wabah Pokemon Go menimbulkan efek Pseudo Sosial yaitu sebuah keadaan yang membuat orang seolah-olah berinteraksi sosial padahal kenyataanya tidak.
 
Bayangin aja, meski yang memainkannya banyakan, hilir mudik orang, apakah mereka saling kenal dan berinteraksi? Tidak. Mereka fokus pada smartphone mereka masing-masing.
 
Lain yang negatif (tidak suka) maka lain lagi dengan yang positif (suka). Bagi orang-orang yang menyukai game Pokemon Go mereka pun memiliki segudang alasan kenapa mereka menyukai game ini.
 
Game Pokemon Go bukanlah bentuk game yang mengajak pemainnya diam duduk dan mengurung diri di kamar. Permainan ini mengajak pemainnya aktif berjalan dan menjelajah di luar ruangan guna menangkap monster. Berjalan merupakan aktivitas fisik yang dapat berdampak positif bagi kesehatan manusia secara keseluruhan.
 
Bagi penderita stress dan depresi, Pokemon Go setidaknya bisa dijadikan terapi dalam mengurangi gejalanya. Penderita depresi biasanya merasa tidak dapat bersatu dengan lingkungan sosial mereka, akan tetapi dengan memainkan Pokemon Go mereka akan dapat memulai berinteraksi dengan orang lain. Bisa dengan bertanya kepada pemain lain tentang cara memainkannya atau strategi menangkap sang monster.
 
Hal itu bisa disebut sebagai terapi perilaku Kognitif dimana pola pikir individu dapat merubah perilaku orang tersebut. Orang yang depresi pada dasarnya cenderung pemalu, dengan ikut bermain Pokemon Go maka ia akan terpancing untuk memulai pembicaraan baru dan itu merupakan hal positif bagi kehidupan sosialnya.
 
Dengan berjalan-jalan di luar ruangan mencari monster mampu meringankan beban pikiran, setidaknya mampu mengalihkan pikiran dari permasalahan yang ada; beban hidup, pekerjaan, kesenjangan sosial, dan lain sebagainya.
 

Pokemon Go mungkin digandrungi bukan karena kecanggihan teknologinya, tapi karena menawarkan realitas baru yang menyelamatkan kita dari jerat rutinitas yang membosankan.

Bagi anak-anak, bermain Pokemon Go dengan waktu yang terkontrol mampu memberikan efek positif bagi perkembangan anak. Anak akan lebih bersemangat dalam mencapai kemenangan. Memiliki strategi dalam pemecahan masalah, dan kepercayaan diri dalam berinterkasi dengan lingkungan sosialnya.
 
Sikap Orang Tua
Saya sendiri sebagai orang tua lebih memilih toleran. Toleran disini bukan berarti memberikan kebebasan tapi memberikan kesempatan dan waktu bermain (termasuk Pokemon Go) dengan pengawasan atau kontrol. 
 
Pendampingan orang tua saat anak-anaknya bermain game di gadget sangat diperlukan. Ada hal-hal, seperti karakter, aturan main, dan cara bermain yang perlu penjelasan dari orang dewasa terhadap mereka. Biar bagaimanapun anak-anak kita sedang memainkan peran dalam dunia yang tidak nyata.
 

Biarkan mereka tahu dan mencoba sesuatu yang memang hadir di masanya selama itu tidak membahayakan mereka secara fisik dan akidah.

 
Adanya pro dan kontra Pokemon Go bisa dijadikan bahan diskusi antara kita sebagai orang tua dan anak-anak. Jelaskan kepada mereka kenapa banyak yang menolak dan kenapa banyak pula yang menyukainya. Biarkan mereka menilai dua kubu yang bersebrangan ini. Meski pemahaman akhir kitalah yang menentukan.
 
Yang perlu dilakukan oleh kita, saya misalnya, adalah memastikan lokasi tempat bermain Pokemon Go yang aman, sudah dikenali, dekat dengan rumah, dan bermain bersama-sama orang yang sudah dikenal.
 
Selanjutnya adalah batasan waktu. Saya akan membatasi waktu bermainnya tidak lebih dari dua jam. Karena kalau lebih dari dua jam akan sangat tidak baik bagi mereka.
 
Mendampingi mereka bermain, memberikan batasan waktu untuk bermain dan mengingatkan mereka bahwa masih ada kegiatan lain yang lebih penting dari Pokemon Go setidaknya lebih bijaksana ketimbang kita melarang mereka melakukan seuatu tanpa alasan yang jelas.
 
Kesimpulan
Apapun jika dilakukan secara berlebih maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Pun begitu dengan game Pokemon Go.
 
Membiarkan anak-anak kita memainkannya dengan bebas, tanpa bimbingan atau pengawasan, dan tanpa batasan waktu akan sangat membahayakan baik terhadap kesehatan, fisik, mental, kecerdasan, emosi dan kehidupan sosialnya.
 
Begitupun sebaliknya, jika kita mengekangnya, melarangnya tanpa mau menerangkan apa penyebab kita melarangnya maka akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan mereka kepada kita, sikap memberontak, dendam, berbohong, dan tidak percaya diri.
 
Dampingi putra dan putri kita dalam tumbuh kembangnya bersama dunia yang memang berbeda dengan dunia kita dulu. Jangan paksa mereka melakukan apa yang kita lakukan dulu. Dunia bergerak maju, bukan mundur.
 
Ikuti perkembangan teknologi sehingga kita akan lebih tahu dari mereka, sehingga kita bisa membimbing mereka dengan benar.
 
Dan yang tidak kalah penting adalah menciptakan kegiatan-kegiatan positif dalam keluarga. Misalkan; memasak bersama, menghafal Al Quran bersama, berkebun, hikking, dll. 
 
Anak-anak yang disibukkan dengan kegiatan positif insya Allah tidak akan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak berguna.
 
Selamat menjadi orang tua super!
2

Cara Ngabuburit Dulu dan Sekarang

tuturahmad.com – Alhamdulillah, ini hari sepuluh kedua di bulan suci Ramadhan. Sejatinya mau nulis blog itu di awal-awal Ramadhan, tapi nyatanya kesibukan cukup membuat badan dan pikiran ini lelah. Tak tahu mesti nulis dari mana.
 
Belum lagi mesti rebutan laptop dengan anak-anak yang lagi hobi main games, duh, akhirnya bapaknya yang mesti ngalah. Tadinya mau ngeblog agak malaman, selepas tarawih dan anak-anak tidur. Tapi, oladalah, yang namanya perut kenyang pasti bawaannya ngantuk. Jadinya bablas tidur hehehe…
 
Meski Ramadhan sudah beranjak di sepuluh hari kedua tak apalah, saya tetap akan menulis tentang ramadhan. Tentang kebiasaan saya mengisi hari-hari selama Ramadhan terutama saat menunggu waktu magrib, ngabuburit. Ya, sekedar berbagi pengalaman, berbagi kenangan dan ide, siapa tahu bisa berguna.
 
Sebenarnya tulisan ini keidean sama anak saya, Hasya, yang begitu suntuk menjalani hari-hari selama berpuasa. Kalau hari sekolah sih dia tidak bete dan suntuk dalam berpuasa karena dia pulang sore dari sekolah, belum lagi teman-temannya suka ngikut ke rumah, bermain sambil nunggu dijemput orang tuanya.
 
Tapi kalau libur, terutama sabtu dan minggu maka suntuknya kumat. Tv, laptop, dan tablet tak lagi mengasyikan. 
 
Melihat itu saya merasa kasihan, tidak saja kepada Hasya tapi juga ke anak-anak yang lain. Mungkin yang lain juga merasakan hal yang sama. 
 
Beda dengan orang dewasa yang tahu besarnya pahala mengisi waktu Ramadhan dengan aktifitas yang bermanfaat semisal tilawah, kajian, dll. Anak-anak hanya butuh sesuatu yang bisa mengalihkan rasa lapar dan haus mereka selama berpuasa.
 
Saya teringat masa kecil saya jika mengisi waktu luang ketika Ramadhan. Zaman dulu belum ada yang namanya android, tablet, laptop atau komputer. Tv pun hanya TVRI saja yang ada. 
 
MANCING
Saya dan teman-teman sering mancing di sungai di pinggir desa. Meski tak pernah dapat banyak tapi kegiatan memancing ikan ini cukup efektif dalam memangkas waktu.
 
Berangkat biasanya jam 10 pagi. Berjalan beriringan melalui pematang sawah menuju sungai.
Memancing Ikan. Sumber poto: Youtube.com
Ikan yang didapat bisa bermacam-macam; Jeler, Beunteur, Nilem, Bogo, Paray, dan lain-lain. Paling banter saya bisa kuat mancing selama 2-3 jam, sisanya mandi, bermain air, dan perang-perangan. Kebayangkan, lagi panas-panas kita berendam di air sungai yang dingin dan jernih. Wuiihhh….suegerr.
 
MAIN MERIAM BAMBU
Kami menyebutnya Lodong Karbit. Ya, sejenis meriam yang terbuat dari batangan bambu sepanjang 2-3 buku, atau sepanjang kira-kira 2 meter. Buku-buku bambunya dilobangi dengan linggis sehingga rongga bambunya tersambung. Di buku paling bawah diberi lubang untuk memasukan karbit sebagai bahan peledaknya
 
Lodong Karbit ini diisi air, kemudian dimasukin karbitnya, seukuran ujung jari juga cukup. Dibiarkan sekitar 5 menit, ketika suara gejolak karbitnya sudah mengecil, inilah saatnya Lodong Karbit disulut.
Meriam bambu. Sumber: Merdeka.com
Duuaaarrr…. Suara menggelegar sontak memekakan telinga. Kami tertawa dan berjingkrak, tak peduli para tetangga ngumpat-ngumpat.
 
Permainan ini kami lakukan menjelang sore hari, selepas ashar ke arah magrib. Lodong karbit akan semakin bersahutan jika menjelang Ramadhan berakhir
 
MAIN ULAR TANGGA/LUDO
Ada yang masih ingat permainan Ular Tangga dan Ludo, atau Halma? Untuk generasi 70-80 an saya pikir pasti masih ingat dan mengalami permainan ini.
 
Saya dan teman-teman sering memainkan permainan ini di teras rumah. Permainan ini biasanya dimainkan di pagi hari, sambil nunggu waktunya mancing ke sungai.
 
Selain di teras rumah, permainan ini sering kami lakukan di saung sawah. Di desa kami sawah masih banyak dan luas. Tiap pemilik bidang sawah pasti memiliki saung sawah, serupa bangunan terbuka di tengah sawah beratap ilalang atau genteng. Saung sawah berfungsi sebagai tempat petani beristirahat atau menyimpan pupuk.
Permainan legendaris, Ular Tangga. Sumber poto: detikindonesia.com
Di saung-saung sawah itulah kami ngabuburit dan bermain Ular Tangga, Ludo atau Halma. Saung sawah yang bertebaran itu semuanya pasti ada yang mengisi, anak-anak kecil yang sedang ngabuburit.
 
Itu kegiatan waktu kecil saya dalam mengisi waktu ketika Ramadhan.
Terus sekarang apa yang saya lakukan dalam mengisi waktu Ramadhan?
Kalau hari-hari biasa, Senin hingga Jumat saya bekerja, karena saya adalah seorang karyawan. Jadi hari-hari reguler tidak terasa waktu berlalunya. Ketika hari Sabtu dan Minggu, jika tidak ada acara keluar memang suka ada rasa suntuk.
 
TILAWAH
Ramadhan adalah bulan Al Quran. Tentu akan lebih baik jika hari-harinya kita isi dengan banyak berinteraksi dengan Al Quran. Ini juga yang coba saya lakukan.
 
Membaca dan men-tadabburi-nya adalah kegiatan yang biasa dilakukan umat muslim dalam mengisi Ramadhan. Dengan ikut program One day One Juz diharapkan di akhir Ramadhan saya bisa khatam Al Quran.
 
MEMBACA BUKU
Membaca buku adalah salah satu yang saya lakukan dalam mengisi waktu Ramadhan. Setelah pulang taraweh, menjelang azan Subuh, menjelang Dhuhur, dan menjelang Ashar biasanya waktu saya membaca buku.
 
Apapun bukunya saya baca. Novel, sirah, atau buku tentang keislaman lainnya.
 
MAIN INTERNET
Ini kegiatan lainnya yang saya suka. Saya lakukan ketika anak-anak sudah tidur, baik tidur siang ataupun tidur malam. Sebab kalau mereka belum tidur maka serta merta laptop mereka ambil alih hehehe.
 
Berselancar di dunia maya, selain membaca berita, biasanya saya #Blogging. Mengisi blog, mencari ide-ide tulisan atau #Resep masakan buat istri.
 
Itulah kegiatan mengisi waktu selama Ramadhan yang saya lakukan, baik ketika masih kecil dan sudah segede gini, hehehe.
 
Tiap orang pasti punya kebiasaan dalam mengisi hari-hari Ramadhan, juga kenangan waktu kecil ketika berpuasa. Yuk, bagikan ceritamu!