2

10 Kiat Mengenalkan Fungsi Uang Kepada Anak

fungsi uang
Tuturahmad.com – Salah satu permasalahan yang biasa terjadi antara anak dan orang tua (terutama ibu) dalam sebuah keluarga adalah uang jajan. Mulai dari jumlah, kapan memberikan, untuk apa, dan ketentuan lainnya yang memang sulit terjadi kemufakatan antara anak dan orang tua.
 
Fakta yang tak terbantahkan adalah sebagian besar kita, orang tua, kadang begitu gamang menghadapi persoalan ini. Berbagai keraguan bergayut dalam pikiran kita. Kapan sebaiknya uang jajan diberikan? Berapa banyaknya?
 
Jika sudah begini sering terjadi salah komunikasi yang fatal antara orang tua dengan anak. Anak membutuhkan uang jajan, sementara orang tua takut-takut memberikannya.
 
Persoalannya sekarang adalah bagaimana caranya agar anak-anak mengenal fungsi dan makna uang dengan baik? 
 
Kenalkan Fungsi Uang Kepada Anak
Membangun fungsi uang kepada anak, termasuk di dalamnya mengenalkan nilai uang, bagaimana belanja yang benar, bagaimana menggunakan uang saku, tabungan, dan sebagainya. Tujuan pengenalan ini adalah agar anak dapat bersikap benar dalam menggunakan uang dalam kehidupan sehari-hari.
 
Rasulullah saw. Memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Hal ini dapat terlihat dari pengarahan-pengarahan yang beliau berikan kepada anak. Bahkan beliau sendiri telah ikut berdagang dan mengelola uang sejak kecil ketika diajak pamannya berdagang.
 
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. Berpapasan dengan Abdullah bin Ja’far, anak paman nabi, yang sedang berjualan dengan anak-anak yang lain. Kemudian beliau mendoakannya,” Ya Allah, berkahilah ia dalam dagangannya.” Rasulullah saw. Tidak malu melihat sepupu kecilnya berdagang dan beliau malah mendoakannya.
 
fungsi uang
Berikut ini ada 10 kiat mengenalkan fungsi uang kepada anak yang bisa dipraktekan para orang tua kepada anaknya.
 
1. Fahami Situasi dan Usia Anak
Kebanyakan anak uasia 2,5 sampai 5 tahun belajar atau beranggapan bahwa belanja adalah untuk memperoleh permen, makanan ringan, mainan, buku mewarnai, boneka, dan lain sebagainya. Setelah usia mencapai 4 dan 5 tahun, keinginan semakin bertambah dan biasanya disertai dengan tangisan memilukan.
 
Di saat seperti ini orang tua biasanya menyerah dan akhirnya mengabulkan keinginan si anak. Ada beberapa hal yang bisa orang tua lakukan; 
  1. 1. Berikan aturan kepada anak setiap kali kita hendak berbelanja. Tanpa mengurangi kebahagiaan saat berbelanja, katakan pada anak belilah barang yang telah disepakati bersama.
  2. 2. Katakan pada anak bahwa yang akan dibeli hanya yang tercatat di daftar belanjaan ibu saja. Memahami apa dan bagaimana keperluan orang tua ketika belanja bersama di pasar, adalah hal lain yang penting diketahui anak.
  3. 3. Berusaha konsisten jika anak meminta ini dan itu. Ini penyakit ketika anak ikut belanja bersama. Berusahalah tegas pada peraturan semula. Kalaupun memang ada hal yang dibutuhkan dan mesti dibeli, segeralah komunikasikan dengan si anak.
  4. 4. Percepat belanja dan segeralah pulang. Jika kita menyerah sekarang, kita akan mengalami kesulitan di masa yang akan datang. Inilah salah satu tanda dan situasi yang dapat kita lihat bahwa sudah waktunya anak diajarkan mengenal uang sejak dini.
2. Memberikan Uang Saku
Pemberian uang saku hendaknya mulai diberlakukan ketika anak mulai memiliki kebutuhan untuk membeli ini dan itu di toko. Besarnya uang saku hendaknya disesuaikan dengan kemampuan si orang tua. Sangat tidak baik jika orang tua memberikan uang dalam jumlah besar kepada anak.
 
Mulailah dengan nominal yang kecil, Rp 4000 misalnya. Ketika memberikan uang saku tersebut, ajak dialog si anak untuk membantu memberi pemahaman akan penggunaan uang tersebut. Berapa buat jajan, berapa buat nabung, dan berapa buat infak/sedekah.
 
3. Bijak Menghadapi Permintaan Anak
Dengan bertambah besarnya anak, permintaannyapun semakin meningkat. Baik bentuk, harga, dan banyaknya. Permintaan yang tadinya hanya sekedar panganan kecil berubah menjadi barang-barang yang mahal. Sering kali kita tidak tega untuk menolaknya dan mencoba untuk memenuhinya.
 
Masalah akan timbul ketika orang tua sedang tidak punya uang kemudian anak meminta dibelikan sesuatu yang mahal maka yang terjadi adalah orang tua akan marah, mengkritik, dan bahkan menceramahi si anak.
 
Ada dua hal yang mestinya dilakukan si orang tua dalam menghadapi situasi seperti ini. Pertama, berikan waktu kepada si anak untuk memahami nilai uang. Karena tujuan kita adalah bagaimana anak dapat mengendalikan pengeluaran uang dan bukan dikendalikan oleh uang.
 
Kedua, tanamkan pemahaman dan tanggung jawab penggunaan uang. Sehingga ketika si anak dewasa kelak dia bisa mengerti dan bertanggung jawab atas uang yang diberikan dari orang tua atau dari hasil jerih payahnya.
 
4. Berikan Uang Tambahan Atas Tugas yang Diselesaikan Anak
Pemberian uang tambahan ini sebagai “bayaran” atas tugas yang diberikan orang tua di rumah. Beri pengertian kepada anak bahwa uang yang Anda berikan bukan uang saku. Uang saku merupakan salah satu alat atau cara untuk mengenalkan nilai uang pada anak. Sedangkan uang tambahan bertujuan untuk mengajarkan anak cara halal mencari tambahan uang saku.
 
Yang harus diperhatikan orang tua adalah, jika ingin memberikan uang tambahan maka tentukan dahulu berapa kita akan membayar hasil kerja si anak. Jangan terlalu murah tapi jangan juga terlalu mahal untuk pekerjaan yang tidak dikerjakan dengan baik.
 
Catatlah pekerjaan yang telah dikerjakan anak dan berikan uang yang dijanjikan segera setelah pekerjaannya selesai.
 
5. Buatlah 3 Macam Tabungan
  1. 1. Tabungan Jangka Pendek. Dikhususkan untuk keinginan dan kebutuhan segera. Untuk simpanan ini biarlah anak yng memutuskan akan membeli apa.
  2. 2. Tabungan Jangka Panjang. Dapat ditabung di bank dengan menggunakan buku tabungan atas nama orang tua dan anak. Simpanan ini bukan untuk tabungan kuliah tapi untuk membeli keinginan atau keperluan anak yang harus diputuskan bersama orang tua.
  3. 3. Tabungan Untuk Infak/Sedekah. Tabungan ini adalah untuk mengajarkan anak bahwa di dalam uang kita ada hak orang lain, yaitu fakir miskin. Jadi sejak kecil si anak sudah diajarkan untuk tidak pelit berzakat, sedekah, dan infak.

fungsi uang

6. Ajarkan Anak Mencatat Pengeluaran dan Melaporkannya.
Ajarkan anak untuk mencatat semua pengeluarannya. Hati-hati jangan sampai mengomentari pengeluaran anak yang menurut kita pemborosan. Tanda tangani saja laporannya dan tuliskan pesan misalnya cobalah untuk lebih hati-hati dan memikirkan dahulu  sebelum membelanjakan uang.
 
Hal ini akan mendorong anak untuk jujur dan mengetahui kesalahannya. Insya Allah mereka akan terus memperbaiki perilakunya.
 
7. Hindari Menyogok dengan Uang Saku
Menggunakan uang saku untuk membuat anak mengerjakan tugas rutin sebagai anggota keluarga bukan sikap yang tepat. Misalnya meminta anak untuk membereskan tempat tidur dengan iming-iming penambahan uang saku.
 
Jika kita menyogok anak untuk mengerjakan tugas rutin sehari-hari dengan uang saku, semakin besar anak akan terus menuntut orang tua untuk memberikan uang yang lebih banyak. Pada akhirnya, anak tidak belajar untuk bertanggung jawab sebagai anggota keluarga.
 
8. Evaluasi Kenaikan Uang Saku
Ajarkan kepada anak bahwa kenaikan uang saku itu dapat dibicarakan dan dinegosiasikan. Biasanya waktu yang tepat untuk membicarakan kenaikan uang saku pada rapat keluarga. Dan ajarkan juga kepada anak untuk mampu memberikan bukti bahwa anak butuh uang saku lebih banyak.
 
Berikan penghargaan ketika anak mampu mengatur keuangannya dengan baik. Memberikan perhatian khusus ketika anak sudah menunjukkan kemampuan untuk menggunakan uang dengan bijak.
 
Sesekali berikan semangat pada anak dan katakan bahwa tidak semua yang dibeli teman harus kita beli juga kalau kita tidak membutuhkannya. Hal ini dilakukan guna mengajarkan kepada anak perbedaan kebutuhan dan keinginan sejak dini sehingga setelah dewasa anak sudah mampu belajar menahan diri.
 
9. Berikan Uang Saku Sesuai Usia
Memberikan uang saku sebaiknya disesuaikan dengan umur anak. Memang akan ada perasaan tidak adil di hati orang tua ketika memberikan uang saku yang berbeda. Tapi makna adilpun bukan berarti harus sama dalam jumlah. Adil dalam hal ini adalah sama-sama diberi tapi dengan jumlah yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
 
Berapa jumlah uang saku yang harus diberikan sangat tergantung dari penghasilan keluarga dan apa saja kebutuhan anak yang harus dibayar sendiri oleh anak.
 
10. Beritahu Anak Pengeluaran Orang Tua
Anak-anak yang sudah mengerti harga sebuah mainan adalah anak yang sudah siap untuk memahami sedikit tentang pengeluaran keluarga. Misalnya ketika belanja dengan ibunya, tagihan telepon, tagihan listrik, dan pengeluaran bulanan lainnya.
 
Jangan ragu untuk menyerahkan bon-bon kepada anak untuk dihitung pengeluarannya, misalnya ketika makan ke luar di restoran atau ketika membelikan buku dan mainan.
 
Jangan buat anak tertekan dengan pengeluaran yang kita lakukan. Atau memberikan nasihat panjang lebar agar dia berhemat. Tujuannya agar anak menjadi tahu berapa beban pengeluaran keluarga per hari.
 
Membicarakan uang dengan anak memang susah-susah gampang, perlu kesabaran ekstra dalam menjelaskannya. 10 Kiat Memperkenalkan Fungsi Uang Kepada Anak hanyalah sebagian kecil dari cara-cara lain yang bisa orang tua coba. Semoga bermanfaat.

Tanda Tangan Ahmad

0

Kalahkan Pokemon Go Dengan Permainan Tradisional

tuturahmad.com – Ini berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya, tentang permainan Pokemon Go. Tidak memperbincangkan segala kontroversinya, tapi saya menyoroti teknologinya secara umum. Ya, betapa teknologi telah meracuni mereka. Teknologi telah merenggut anak-anak dari budaya mereka, termasuk permainan.
 
Coba saja tanya mereka, apakah mereka tahu permainan gasing, petak umpet, congklak, gobak sodor, lompat tali, bebentengan, adu kelereng, egrang, atau bekel? Pasti mereka tidak tahu. Anak-anak sekarang lebih familiar dengan permainan yang terinstal di smartphone mereka semacam Plant vs Zombie, Clash Royale, Alto’s Adventure, Angry Birds, Clash of Clan, Getrich, Rayman Adventures, dan yang terakhir dan booming; Pokemon Go.
 
Permainan  tradisional adalah permainan anak-anak zaman dulu yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Kebanyakan permainan tradisional dilakukan dengan cara berkelompok. Ini dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat zaman dulu yang banyak mengarahkan dan menuntun anak-anak pada kegiatan sosial dan kebersamaan yang tinggi.
permainan tradisional lebih baik dari pokemon go
Permainan tradisional merupakan kekayaan budaya lokal yang seharusnya dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani  dan karakter anak, tapi justru tergeser dengan munculnya berbagai permainan yang dapat diunduh secara online di komputer atau gadget.
 
Orang-orang zaman dulu tidak sembarangan dalam menciptakan aneka permainan bagi anak-anak mereka. Permainan yang tercipta tentunya sarat makna dan nilai-nilai budaya  yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.
 
 
Sedangkan aneka permainan yang berbasis teknologi dan sekarang marak diunduh via smartphone adalah permainan yang tidak berdasarkan budaya. Kalau pun ada yang berbasis budaya, maka budayanya sangat tidak sesuai dengan budaya dan karakter kita.
 
Minim Narasumber
Meski begitu kita tidak seharusnya menyalahkan anak-anak kita atas ketidaktahuan mereka dengan aneka permainan tradisonal itu. Ada faktor yang menyebabkan kenapa permainan tradisional tidak populer di dunia anak-anak sekarang. 
 
Menurut Zainal Alif dari Komunitas Hong, tidak adanya nara sumber (orang tua atau dewasa) yang mengajari mereka permainan tradisional dan keterbatasan bahan-bahan yang digunakan adalah faktor penyebabnya.
permainan tradisional lebih baik dari pokemon go
 
Para orang tua zaman sekarang kebanyakan adalah para pekerja yang banyak kesibukan. Pemberian smartphone atau gadget dianggap lumrah sebagai konpensasi mereka akan ketiadaan waktu bersama anak-anak. Ini pula faktor yang menyebabkan anak-anak lebih akrab dengan permainan modern daripada permainan tradisional.
 
Nilai Positif Permainan Tradisional
Banyak nilai-nilai positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional yang bisa menjadi dasar pembentukan karakter anak. 
  1. Anak mudah beradaptasi, imajinatif dan kreatif
  2. Melatih ketrampilan sosialisasi dan negosiasi 
  3. Mensimulasikan peran sosial dalam masyarakat
  4. Membiasakan aktivitas fisik
  5. Belajar menerima kekalahan dengan lapang dada
Nah, menimbang begitu besarnya manfaat permainan tradisional buat anak mungkin kini saatnya para orang tua untuk mulai mengajarkannya kepada anak-anak Anda. Ya, sekaligus bernostalia, mengingat masa-masa kecil dulu. Menyenangkan bukan?
 
Dengan menceritakan dan mengajarkan aneka permainan tradisional pada anak-anak maka kita telah melakukan tiga hal sekaligus. Pertama, melestarikan budaya bangsa. Kedua, membentuk jiwa,  dan karakter anak dengan “ruh” bangsa sendiri, dan Ketiga mempererat hubungan anak dn orangtua yang terenggut dengan smartphone dan gadget.
 
Siapa tahu dengan permainan tradisional ini Pokemon Go dapat terkalahkan!
 
Apa saja permainan tradisional yang Anda tahu? Berbagi yuk!
3

Balada Ngontrak

Baru dua minggu ini saya dan keluarga menempati kontrakan baru. Letaknya di Komplek Pos dan Giro. Sengaja milih di sana karena lokasinya yang dekat dengan sekolah Hasya. Sekolah si sulung letaknya bersebrangan dengan perumahan kami, malah gerbang sekolahnyapun terlihat dari rumah. Jadi tidak perlu lagi pake mobil antar jemput.

Kalau dihitung dari pertama pindah ke Bandung karena Hasya sekolah, maka ini adalah kontrakan yang ke empat yang kami tinggali. Sebelumnya, dua kali pindahan di sekitar Cisaranten Kulon (6 bulan), terus pindah ke Cipagalo (1 bulan), dan sekarang kami di perumahan Pos dan Giro.

Kalau dihitung dari setelah nikah maka total sudah sebelas kali kami pindah kontrakan. Paling lama kami ngontrak selama 7 bulan, dan paling sebentar kami tiga minggu. Apakah tidak capek? Apakah tidak memiliki keinginan punya rumah? Pertanyaan klasik yang pasti sudah pada tahu jawabannya. Hehehe..

Impian Yang Belum Terwujud
Pastinya memiliki rumah bagi setiap orang, terutama yang sudah berumah tangga adalah impian. Malah, menurut saya memiliki rumah bukan lagi impian, tapi sebuah kebutuhan.

Tapi harga rumah sekarang, yang segede pos ronda saja, mahalnya minta ampun, apalagi jika lokasinya di kota. Sebelum Hasya sekolah, saya dan istri berencana mau ngredit rumah. Sebuah kelumrahan di jaman sekarang. Ada gitu yang beli rumah cash sekarang, apalagi sekelas karyawan? Tapi, ternyata ga dapet-dapet. Ga dapet yang bagus dan harga murah. Pengennya sih, dapat rumah yang bagus, minimal kamar empat, ada taman, garasi, lokasi di kota, tapi harga di bawah 200 juta!

Nyatanya susah banget. Ada yang murah tapi lokasinya di Baleendah atau Rancaekek, atau di Cileunyi sana (maaf bukan bermaksud menjelekkan lokasi tersebut, tapi rata-rata daerah-daerah tersebut dilewat setiap orang dari daftar pencarian rumah). 

Hingga kemudian tiba Hasya waktunya sekolah. Mutar muter cari sekolah yang bagus, Alhamdulillah dapat sekolah yang bagus. Meski menguras dompet dan tabungan, tidak apa-apalah, apapun yang terbaik demi anak.

Terus gimana rumahnya? Kita ngontrak lagi saja. Toh ngontrak bukan pekerjaan haram dan memalukan toh, sembari nabung, kumpul-kumpul uang dari (sisa) gaji, dari orderan, dari sumbangan orang tua, siapa tahu cukup buat DP. Itu rencana tahun lalu. Nyatanya, setahun berlalu tapi uangnya ga kumpul-kumpul juga. Oladalah…

Terus rumahnya gimana? Kita ngontrak lagi aja. Allah belum ngasih, masih nunggu waktu yang tepat buat kita. Dia Maha Tahu yang terbaik buat kita. Mencoba bijak dan soleh.

Mencoba Menikmati dengan Bersyukur
Saya dulu, hingga sekarang, bercita-cita ingin keliling dunia, tinggal dan hidup di negeri-negeri jauh, misalnya Francis, Inggris, Kanada, Belgia, Swiss, Belanda, Jerman, Turki, Selandia Baru, Afrika Selatan, dll. Ingin menginjakan kaki di belahan Bumi Allah yang lainnya. Cuman hingga detik ini belum kesampaian.

Kini, saya dan keluarga keliling sebagian wilayah Bandung. Ngontrak. Mungkin sebelum saya diberi kesempatan keliling dunia, saya mesti keliling Bandung dulu,  Hehehe.

Kami sikapi dengan bijaksana aja sih, buat apa juga ngeluh. Memangnya kalau ngeluh langsung ada yang ngasih rumah? Dengan pindah sana pindah sini justeru kami jadi banyak keluarga, banyak kenalan, banyak kerabat. Apalagi daerah sekitar Babakan sari, Kiaracondong, wuuiihhh bagaikan melihat telapak tangan sendiri. Di daerah sanalah kami pindah kontrakan hingga tujuh kali. Hafal betul daerah sana. Tiap lewat gang-gangnya pasti ada saja yang kenal dan menyapa.

Kadang saya suka ngobrol sama istri, mungkin Allah membiarkan kita ngontrak dulu supaya kita banyak melakukan kebaikan di tiap tempat. Sejauh mana kebaikan yang kita berikan di tiap tempat yang pernah kita tinggali. Setelah itu kami sering review tiap tempat yang kita singgahi dan pernah tinggal di sana. Alhamdulillah, seingat kami, kami belum pernah melakukan kejelekan, baik ke yang punya rumah ataupun ke lingkungan setempat.

Kami dengan yang punya kontrakan yang dulu-dulu juga masih sering komunikasi, saling menyapa jika bertemu. Ada ibu kontrakan yang sms nanyain sudah punya rumah belum, kalau belum ngontrak di ibu lagi saja. Ada ibu kontrakan yang nangis tersedu sambil meluk istri saya ketika kami mau pindah (mungkin karena pemasukannya berkurang ya..).

Tapi syukur Alhamdulillah, dari pengalaman ngontrak ini kami jadi bertambah saudara, jadi hafal daerah-daerah yang tadinya kami tidak ketahui. Mungkin itulah hakikatnya, supaya kami saling mengenal dan saling silaturahmi.

Terus gimn rumahnya? Ngontrak lagi aja. Tidak apa-apa ngontrak asal bahagia, anak-anak soleh dan soleha, tercipta keluarga yang memberi manfaat untuk lingkungan. Dari pada punya rumah, tapi tidak bahagia, tidak menjadi surga buat penghuninya.

Tulisan ini dibuat diiringi rintik hujan sore di bulan April, ditemani secangkir teh hangat dan goreng pisang buatan istri tercinta. Sambil sesekali melihat si sulung mengajari adiknya membaca.

Ya Rabb, tak ada sesuatupun yang terasa nikmat kecuali dilalui dengan rasa syukur. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu pandai bersyukur akan karunia yang Engkau berikan. Aamiin

8

Momen Indah Seorang Ayah

Jika ditanya, apa momen terindah saya sebagai seorang Ayah?
Bagi saya, setiap saat bisa mendampingi buah hati adalah momen indah dan sangat berharga. Ketika pulang kerja anak-anak menyambut dengan pekikan bahagia adalah saat bahagia yang takbisa digambarkan. Saat anak-anak mencari dan membutuhkan saya untuk menyelesaikan masalahnya, baik mengenai pelajaran ataupun cuma membetulkan mainan adalah sebuah momen dimana saya merasa bangga sebagai Ayah yang dibutuhkan.
 
Setiap orang punya definisi sendiri tentang arti momen berharga bersama keluarga. Bagi saya sendiri momen berharga itu takmesti dalam suasana meriah, gempita pesta, makanan mewah, atau limpahan hadiah. Cukup dengan komunikasi dua arah dengan suasana penuh cinta itu sudah cukup dalam kategori momen indah bagi saya.
 
Tapi jika kalian tetap memaksa saya untuk tetap menyebutkan momen indah yang rutin terjadi dalam keluarga ya, saya akan sebutkan. Ada beberapa momen yang saya sangat menikmatinya ketika itu terjadi. Bukan hanya menikmati, tapi juga bahagia dan bangga. Apa saja itu?
 
Saat Sarapan Pagi
Sebelum berangkat kerja, saya dan keluarga; terutama saya dan si sulung Hasya selalu sarapan bersama. Sarapan bersama dalam satu piring. Istri yang nyiapin. Setelah saya dan Hasya beres berpakaian, sarapanlah kami.
 
Saya yang pegang sendok. Hasya saya suapin. Sesendok Hasya, sesendok saya.
Istri dan si kecil, Danish, biasanya hanya sarapan makanan kecil. Tapi takjarang Danish juga saya suapin. Kebiasaan ini sudah lama saya lakukan.
 
Sarapan pagi bagi saya masuk dalam kategori momen indah karena dikala sarapan ini saya dan anak-anak bisa berkomunikasi secara lebih dekat. Saya banyak menanyakan banyak hal terutama tentang perkembangan sekolahnya, pelajaran, gurunya, temannya, dan lain sebagainya. Tentang kesiapannya menghadapi hari ini, tentang rencananya hari ini bersama teman-temannya.
 
Dalam sarapan pagi bersama, saya juga mengajarkan kepada anak-anak untuk bisa bersyukur dengan apa yang kita punya hari ini, termasuk makanan. Hal biasa bilamana anak-anak malas sarapan karena menunya itu-itu saja. Seringnya kami sarapan pagi dengan telor ceplok. Selain praktis, juga murah. Pasti itu membuat bosan. Saat itulah saya sebagai ayah mencoba memberi pemahaman kepada anak-anak untuk tetap bisa bersyukur dengan apa yang dimakan hari ini.
 
Saya katakan, betapa di luaran sana begitu banyak anak-anak seusianya yang kelaparan, belum makan, tidak memiliki ayah-ibu, sekedar untuk makan saja mereka mesti bekerja, ngamen, mengemis, dan lain-lain. Bersyukurlah, karena kita di sini masih bisa sarapan pagi dengan nikmat meski hanya dengan telor ceplok, berkumpul bersama dengan keluarga, tidak kepanasan ataupun kedinginan.
 
 
Saat Berangkat Sekolah
Momen indah selanjutnya adalah ketika perjalanan ke sekolah. Kebetulan sekolah anak saya searah dengan jalan ke kantor. Setiap pagi saya membonceng Hasya berangkat ke sekolahnya, setelah itu saya lanjutkan berangkat ke kantor. Pulangnya dia pakai mobil jemputan.
 
Selama perjalanan ke sekolah, berboncengan, saya banyak ngobrol dengan Hasya. Saya bertanya apakah dia senang hari ini? Apakah dia senang bersekolah di sekolahnya? Kenapa saya bertanya seperti itu? Itu saya anggap penting karena siapa tahu sebenarnya anak tuh tidak siap sekolah hari ini, atau punya masalah di sekolahnya yang dia tidak mau cerita kepada orang tuanya. Saya pernah ikut seminar parenting, bahwa menanyakan apakah anak bahagia atau tidak dalam mengawali hari itu sangat penting. Itu untuk mengetahui kondisi psikologis anak pada hari itu. Jangan sampai anak membawa beban yang tidak terpecahkan dalam beraktifitasnya. Dukungan dan pelukan hangat orang tua sangat menguatkan dia dalam menjalani harinya.

Kami hanya berharap anak-anak bisa hidup dalam jalan dan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul.


Saat perjalanan berboncengan ke sekolah, saya juga banyak menanyakan progres hafalan Quran-nya. Sudah sejauh mana dia menghafal surat-surat pendek, apa yang susah, dan mencoba mengajak murrojaah, membetulkan kesalahan pengucapan tajwidnya.
 
Dalam perjalanan yang singkat itu pula, saya sebagai Ayah mencoba menanamkan sedikit demi sedikit prinsip dan visi hidup keluarga yang coba kita bangun. Ibarat supir, saya memiliki rute perjalanan dan tujuan yang akan kita lalui. Inilah yang disepakati saya dan istri dalam membangun keluarga, dan ini pula yang coba saya jelaskan ke Hasya dalam perjalanan singkat ini. Tentu dengan bahasa yang sederhana, yang mudah dipahami anak seusianya.
 
Kenapa ini penting? Saya hanya mencoba menanamkan kepada anak tujuan hidup yang kami anggap benar dan menjadi landasan keluarga. Harapannya, semoga kedepannya anak kami sudah memiliki arah dan tujuan dalam hidup, tidaklah muluk, kami hanya berharap anak-anak bisa hidup dalam jalan dan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul.
 
Selalu ada keceriaan pada saat mengantar Hasya. Selalu ada kebanggaan yang menyertai. Mengantar anak sekolah bagi saya sejatinya adalah mengantarkan sebuah benih mimpi besar yang kelak akan mewujud sebentuk sejarah. Sejarah keluarga atau peradaban.
 
Saat Solat Berjamaah
Momen berharga selanjutnya adalah saat solat berjamaah. Biasanya solat magrib dan isya. Saya sebagai imam, sedangkan istri dan Hasya takketinggalan Danish sebagai makmum.
Selalu haru dan bahagia ketika sebelum takbir saya berbalik kebelakang, memeriksa shaf. Melihat anak dan istri siap menjadi makmum dalam ritual penghambaan paling agung. Solat! Selalu bergetar suara ini tatkala melafalkan ayat-ayat suci. Betapa nikmat terbesar adalah karunia keluarga yang sehat dan soleh. Setidaknya itu yang saya rasakan.
 
Meski tidak setiap saat si bungsu Danish bisa tertib dan ikut solat hingga selesai. Tetap saja kehadirannya dalam shaf membuat saya bangga untuk anak usia 2 tahun. Tak jarang dia malah berdiri di hadapan saya, memandang saya dan tersenyum menggemaskan, atau malah tidur telentang di tempat saya sujud. Bahkan, pernah dia joget  di hadapan saya ketika saya jadi imam pas denger musik dangdut dari tetangga sebelah.
 
Selepas solat berjamaah, kami tilawah bersama. Setelah selesai tilawah, istri biasanya cek tilawah dan hafalan Hasya. Sedangkan saya coba ngajarin Danish Al Quran. Saya hanya memperkenalkan Al Quran padanya. Saya tilawah dihadapan dia, murojaah di hadapan dia. Supaya dia tahu bahwa Al Quran adalah bacaan setiap saat keluarganya. Takjarang kami coba bacakan ke dia surat-surat pendek yang mudah dihapal. Semisal Al Fatihah, Al Ikhlas, An Nas, Al Falaq. Meski Danish hanya bisa mengucapkan akhirnya saja tapi itu membuat kami bangga.
 
Itulah momen-momen indah saya bersama keluarga. Setiap saat adalah momen berarti nan indah, tapi itulah yang mungkin bisa saya ceritakan kali ini. Terlalu panjang jika setiap saat mesti ditulis. 
 
Tiap orang memiliki momen-momen indah bersama keluarga dan orang-orang tersayang. Apa momen terindahmu?