28

5 Penyebab Postingan Sepi Komentar dan Tidak Layak Share

5 Penyebab Postingan Sepi Komentar dan Tidak Layak Share
5 Penyebab Postingan Sepi Komentar dan Tidak Layak Share
Tuturahmad.com – Suatu kebanggaan bagi seorang blogger jika tulisannya ada yang membaca, mengomentari bahkan membagikannya dengan yang lain. Ciri postingan yang baik adalah berisi informasi aktual, penting, berguna, unik, menarik, dan memenuhi nilai sebuah berita. Postingan seperti ini yang memancing orang untuk membaca, mengomentari dan membagikannya.
Lantas bagaimana kalau kita sudah panjang lebar menulis, sudah banyak bikin artikel tapi jangankan dibagikan, dikomentari juga tidak, atau jangan-jangan tidak dibaca pula. Tragis.
Setidaknya ada beberapa hal yang mungkin bisa jadi penyebab kenapa tidak ada yang mengomentari/menanggapi dan men-share postingan kita.Banyak blogger pemula bahkan yang sudah senior sekalipun yang merasa heran mengapa postingannya minim komentar dan tidak menjadi sesuatu yang layak dishare.
1. Postingan Tidak Unik dan Kurang berkualitas
Sebagian besar orang suka membaca artikelatau tulisan yang memberikan input pengetahuan atau informasi baru kepada pembaca. Dengan membaca postingan dari web mereka berharap menemukan apa yang mereka cari, minimal mereka menemukan sesuatu yang baru.
Perlu kita ketahui, ketika seseorang menemukan sesuatu yang unik dan baru maka kecenderungan orang adalah menshare apa yang mereka temukan itu ke orang yang mereka kenal. Dengan begitu dia mengharapkan akan ada kesamaan topik obrolan dan cara pandang dengan apa yang mereka temukan.
2. Kurang Memiliki Hubungan Pribadi
Berapa banyak teman-teman kita di media sosial? Dan apakah kita memiliki hubungan yang kuat dengan mereka?Seakrab apa kita dengan mereka?
Nah, hubungan pribadi yang kuat atau pertemanan yang kuat akan melahirkan kepercayan. Tidak terkecuali di dunia maya.
Kebayangkan, kalau kita posting sebuah artikel di blog terus kita share ke media sosial maka teman-teman kita yang banyak itu, yang akrab itu, dan yang percaya sama kita itu akan dengan suka hati men-share ulang postingan itu ke orang lain. Bisa jadi viral tulisan kita.
Mungkin kini saatnya kita luangkan waktu antara 30 menit – 1 jam untuk berinteraksi dengan follower. Mengunjungi blognya, berkomentar dengan berkualitas, dan ikut men-share tulisannya, menanyakan kabar via pesan singkat atau email.
3. Hanya Berbagi Link Tidak Berbagi Info
Ada kebiasaan blogger yang menurut saya keliru dalam membagikan postingannya. Entah ingin cepat, praktis atau apa, ketika mereka membagikan postingannya melalui media sosial, mereka hanya mencantumkan link artikelnya saja. Itupun dengan permalink yang terputus karena judulnya kepanjangan. Tidak ada pengantar yang menerangkan ini link apa.
Apakah orang yang kita kirimi link itu akan mengerti? Belum tentu.
Orang zaman sekarang ‘dipaksa’ sibuk dengan keadaan, dengan teknologi. Mereka seakan tiba-tiba tidak punya waktu untuk sekedar membuka link yang tidak jelas.
Jadi, alangkah baiknya ketika kita membagikan link postingan di media sosial diiringi dengan penjelasan singkat isi dari tulisan. Buat kalimat yang seolah-olah postingan ini adalah tulisan yang dia harus membacanya. Kemudian, akhiri dengan kalimat tanya yang membuat orang penasaran dan mau membuka linknya.
4. Tidak Memiliki Komunitas
Mending mana, berjualan sendirian di pinggir jalan atau berjualan di pasar?
Saya sih pilih berjualan di pasar. Kalaupun warung kita sepi tapi kita masih ada peluang limpahan pembeli dari warung tetangga sebelah. Kalau warung sebelah ramai, biasanya kerumunan pembeli akan melirik juga barang dagangan kita. Apa lagi kalau kita akrab dengan si pemilik warung yang ramai itu, maka bisa jadi si pemilik warung itu akan ikut merekomendasikan barang dagangan kita yang memang tidak ada di warungnya.
Seorang blogger kudu memiliki komunitas, grup, atau apalah namanya. Tempat saling berbagi link postingan, berkomentar, dan berdiskusi tentang blog.
Kalaupun blog kita sepi, minimal kita akan dapat kunjungan dan komentar dari teman sendiri sesama anggota grup blogger. Syukur-syukur postingan kita bagus, dan teman grup pada baik hati mau men-share ulang postingan kita.
5. Penuh Kata-kata Berat
Dulu, saya punya teman sekantor yang memiliki blog personal. Blognya sudah berumur lama, tulisannya sudah banyak. Tapi anehnya begitu anyep. Sepi. Dari tiap postingan yang saya baca tidak ada satupun komentar atau jejak share dari orang lain.
Karena kasihan, saya coba memberi komentar: “Luar biasa!” Saya sendiri tidak tahu apa maksud saya memberi komentar dengan kata “Luar biasa” itu. Luar biasa sepi mungkin, hehehe.
Beberapa bulan ke belakang  saya coba buka link blognya, ternyata blognya sudah dihapus.
Kalau saya ingat-ingat, memang blognya itu memiliki gaya bertutur yang baku, kadang berima, dan memiliki kata-kata berat. Banyak istilah luar negerinya gitu. Saya sendiri harus membaca ulang dan butuh waktu untuk bisa memahaminya.
Bisa dibayangkan, bagaimana saya akan membagikan ulang postingan itu jika saya sendiri tidak mengerti apa yang dia tulis. Tidak mengerti ini tulisan bagus atau tidak?
Nulis di blog itu tidak seperti nulis paper, journal atau skripsi, sob.
Menulislah dengan gaya yang lugas, ringkas, dan mudah dipahami. Gunakan bahasa yang sederhana. Pembaca menikmati tulisan bergaya percakapan, tanpa bertele-tele. Usahakan menulis dengan gaya berbicara kepada pembaca. Jangan buat bingung pembaca dengan jargon dan akronim atau istilah teknis lainnya.
O iya, perhatikan juga typographi dalam menulis. Usahakan diedit dulu sebelum dipublish. Konten sebagus apapun akan kurang nilainya jika banyak salah tulis.
Mungkin hanya ini yang bisa saya tulis dan share. Semoga tulisan sederhana ini bisa dimengerti dan bermanfaat buat yang nulis terlebih buat yang membaca.
Nah, apakah tulisan ini layak dikomentari dan di-share?
 
 
Tanda2BTangan2BAhmad2Bmiring