0

5 Primadona Wisata Lembang Saat Musim Liburan

primadona wisata lembang

Tuturahmad.com – Kawasan Lembang, Bandung Barat merupakan kawasan yang kaya akan tempat wisata yang memikat, baik wisata alam ataupun wisata buatan. Tak heran jika di musim liburan kawasan Lembang diserbu ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Seperti musim liburan di penghujung tahun 2016 ini, kawasan Lembang sudah dipadati oleh wisatawan yang hendak berlibur di daerah yang berhawa sejuk ini. Liburan kali ini diprediksi akan lebih ramai dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan liburan sekolah berbarengan dengan libur natal dan disambung dengan liburan tahun baru.

Ada banyak destinasi wisata di daerah Lembang tapi setidaknya ada 5 tempat yang menurut saya yang paling terkenal dan banyak dikunjungi oleh wisatawan.

1.  Grafika Cikole

Grafika Cikole tepat berada di bawah kaki gunung Tangkuban Perahu, letaknya berdampingan dengan pintu masuk ke kawasan Tangkuban Perahu.

Grafika Cikole termasuk salah satu tempat wisata terpadu terlengkap yang ada di Lembang.  Ditunjang dengan berbagai fasilitas yang lengkap seperti penginapan, restoran, sarana bermain, outbond, kebun binatang, dll. Pengunjung bisa menikmati keindahan dan udara sejuk, serta beraktifitas kreatif seperti outbond, fotographi, atau permainan.

primadona wisata Lembang - grafika

Objek Wisata Grafika Cikole/Photo: grafikacikole.com

Untuk tempat makannya Anda bisa memilih tempat dengan suasana yang berbeda.

  • Restoran Sangkuriang, tempat makan dengan nuansa alam tapi tetap dengan suasana eksklusif.
  • Restoran Sunda Buana, tempat ini lebih besar dengan kapasitas 200 orang. Menyajikan aneka masakan Sunda. Ada live musiknya jadi suasananya lebih terasa santai.
  • Pendopo Hutan. Letaknya di atas bukit, menjadikannya tempat makan yang eksotik. Kapasitas 100 orang dengan penyajian secara prasmanan. Menyantap masakan lezat sambil menikmati segarnya pemandangan alam.
  • Aula Bambu. Bangunan ini bercorak khas Sunda dengan dominan berbahan bambu. Mampu menampung 600 orang dengan penyajian makanan secara prasmanan dan setiap makanan ada harganya dengan relative murah.
  • Saung Lesehan. Grafika Cikole juga menyediakan rumah-rumah kecil yang disebut saung. Saung ini digunakan untuk tempat makan secara lesehan. Bagi Anda yang rindu kampung halaman dan makan di saung sawah maka tempat ini cocok untuk Anda.

Selain aneka tempat makan, Grafika Cikole juga menyediakan tempat menginap. Mulai dari yang tipenya hotel, pondokan sampai tenda di camping ground.

2. De Ranch

Kalau Anda ingin merasakan wisata dengan suasana peternakan, naik kuda dan berpakaian ala koboy Amerika maka De Ranch jawabannya.

De Ranch memberikan nuansa baru dalam wisata alam dengan menghadirkan nuansa peternakan dimana kuda merupakan hewan pekerja laksana di zaman koboy.

primadona wisata Lembang-de ranch

Objek Wisata De Ranch Lembang/Photo : deranchlembang.com

De Ranch bisa dikatakan kawasan wisata yang lengkap karena menyediakan aneka wahana hiburan bukan saja bagi orang dewasa tapi juga untuk anak-anak. Di De Ranch pengunjung bisa menungggang kuda, naik delman, mancing, main peti luncur, balon air, dan lain-lain.

Selain aneka permainan, De Ranch juga menyediakan berbagai jenis pelatihan edukatif, menambah wawasan dan pengetahuan seperti latihan berkuda, pelatihan ternak sapi dan kuda, latihan membuat kue, memerah susu sapi, dll.

Fasilitas De Ranch juga terbilang lengkap, di sana tersedia tempat parkir yang luas, mushola, toilet, restoran, trek untuk kursi roda, toko oleh-oleh dan pasar tanaman hias.

3. Farm House

Bagi Anda yang menginginkan tempat wisata keluarga dengan keunikan dan kecantikan konsep dan dipadu dengan suasana imajinasi tinggi maka Farm House bisa Anda kunjungi. Ada beberapa spot unggulan yang bisa Anda temukan di Farm House.

primadona wisata lembang - farm house

Taman Bunga Farm House Lembang/Photo: visitlembangbandung.com

Taman Bunga Eropa. Gak perlu ke Eropa untuk bisa melihat aneka macam bunga cantik menawan. Di Farm House ada taman bunga yang dipadukan dengan bangunan klasik khas Eropa. Berada di taman ini, di antara bangunan klasiknya Anda serasa dibawa ke benua Eropa sana. Sungguh menawan.

Rumah Mungil Hobbit. Di Farm House ada rumah-rumah mungil yang di desain mirip dengan rumah Hobbit. Para wisatawan harus membungkukan badan jika ingin masuk kerumah hobbit karena sesuai dalam film rumah ini sangat mungil. Anda dapat mengabadikan momen spesial di rumah hobbit Farm House dengan berfoto ria bersama keluarga, sahabat dan orang terkasih.

Gembok Cinta. Selain seru Farm House lembang juga sungguh merupakan tempat yang romantis, bagi anda wisatawan muda dan mudi yang ingin mengabadikan perasaan cinta anda bersama pasangan anda dengan cara di gembok cinta layaknya di jembatan Pont des Arts Perancis. Oh, so sweet.

Kebun Binatang – Farm House lembang bandung memiliki peternakan mini yang bisa wisatawan lihat bersama anak-anak, hal ini tentunya akan membuat anak-anak semakin betah dan gembira, beberapa hewan tersebut yaitu : Iguana, Kelinci, angsa, burung, kambing dan lain-lain.

4. The Lodge Maribaya

The Lodge Maribaya adalah salah satu tujuan wisata di kawasan Lembang, pengunjung The Lodge Maribaya dapat melakukan kegiatan outing, rekreasi, camping, tracking dan kegiatan luar ruang lainnya. Lokasi ini juga dekat dengan sekolah Nurul Fikri Boarding School.

primadona wisata lembang - the lodge

Wahana Sky Tree di The Lodge Maribaya/Photo: alimuakhir.com

Bagi Anda yang suka berwisata dengan alam terbuka maka tempat ini sangat recommended. Lokasinya sangat photogenic dengan banyaknya spot photo kekinian. Kalau Anda melihat di instagram atau Facebook ada orang yang berpose di atas pohon, atau bersepedah di ketinggian melewati seutas kawat, atau bergelayut main ayunan di atas pucuk-pucuk pinus, maka bisa dipastikan lokasinya adalah di The Lodge Maribaya.

Sky Tree, Sky Swing, dan Sky Bike adalah spot-spot yang paling popular untuk selfie.

Untuk tamu yang hendak menginap tidak perlu khawatir, di The Lodge Maribaya tersedia camping ground tapi pelayanannya seperti hotel berbintang. Ada sekitar 25 tenda ekslusif dengan fasilitas ala kamar hotel. Di dalam setiap tenda terdapat kasur, bantal, selimut, dan handuk.

5. Floating Market

Di Lembang, meskipun berada di pegunungan tapi ternyata ada wisata pasar terapung seperti di Bangkok, Thailand atau di sungai-sungai Banjarmasin. Tempat ini namanya Floating Market Lembang.

Di Floating Market Lembang para wisatawan dapat merasakan sensasi belanja di atas perahu yang terapung di danau seperti membeli makanan tradisional khas Jawa Barat, sayur mayur, ikan segar dan lain-lain. Selain itu, Floating Market Lembang juga menyediakan berbagai macam permainan anak-anak dan dewasa seperti perahu air, kereta air dan outbond yang tentunya akan semakin menggairahkan Anda dan keluarga berwisata.

primadona wisata lembang-foating market lembang

Floating Market Lembang/Photo:infojalanjalan.com

Wisata Floating Market Lembang ini menawarkan tema bermain, belajar dan berkuliner di tengah suasana alam. Meskipun konsep utama Floating Market Lembang ini adalah pasar apung, namun kita juga bisa menikmati arena lainnya yang tidak kalah menarik. Ada Taman Angsa dan Taman Kelinci tentunya tempat yang menarik dan bagus untuk memperkenalkan anak-anak dengan satwa.

Ada juga Kampung Leuit dimana kita bisa menikmati suasana pedesaan dengan bangunan-bangunan beratap ijuk dengan dinding khas rumah Jawa barat zaman dulu lengkap dengan padi yang menghijau. Di Kampung Leuit ini, juga disediakan arena mancing belut yang semakin mendekatkan anak-anak dengan pedesaan.

Untuk urusan kuliner, meskipun Floating Market Lembang mengedapkan kesan alam dan pedesaan, namun kita juga bisa menikmati makanan modern yang terdapat di area rockpool. Kita bisa menikmati pizza, pasta dan juga steak.

Sebagai sarana edukasi ada juga taman miniatur kereta api yang menyajikan miniatur kereta api lengkap dengan pemandangan alamnya dengan skala 1:24 sehingga menjadikannya taman miniatur terbesar di Indonesia. Kita juga bisa juga menikmati arena permainan seperti flying fox, ATV maupun menyewa kano atau perahu bebek sambil menikmati pemandangan danau. Semua fasilitas ini tentunya menunjukkan bahwa Floating market Bandung terbaik sebagai tempat wisata.

Nah, semoga review 5 primadona wisata Lembang ini bisa membantu Anda dalam mencari referensi tempat wisata untuk liburan Anda dan keluarga. Selamat berlibur.

Tanda Tangan Ahmad

 

18

Asyiknya Wisata Sejarah dan Legenda di Puncak Gunung Padang

Tuturahmad.com – Bagi Anda yang melancong ke Kota Padang rasanya kurang afdal kalau tidak berkunjung ke Gunung Padang. Kenapa? Setidaknya ada tiga alasan yang bisa membuat Anda merasa wajib mengunjunginya. Pertama, Gunung Padang adalah tempat tertinggi yang ada di sekitar pusat kota. Kalau Anda ingin melihat landscap Kota Padang  dan lautnya yang indah maka lihatlah dari puncak Gunung Padang.
 
Kedua, Anda suka kisah Siti Nurbaya? Kalau jawabannya ya, maka Anda tidak punya alasan lagi untuk tidak mengunjunginya. Dalam kisah Siti Nurbaya, Gunung Padang adalah tempat pertama kalinya Siti Nurbaya bertemu dengan Syamsul Bahri. Di Gunung Padang jualah Siti Nurbaya dimakamkan ketika meninggal akibat diracun Datuk Maringgih.
 
Alasan ketiga,bagi Anda penyuka sejarah perang dunia kedua maka di Gunung Padang kita bisa melihat peninggalan – peninggalan masa pendudukan Jepang. Ada beberapa bunker peninggalan Jepang yang bisa kita kunjungi.
 
Keindahan dari Puncak
Gunung Padang sebenarnya hanyalah sebuah bukit yang berketinggian kurang lebih 80 mdpl. Bukit ini adalah tempat tertinggi di Kota Padang. Makanya jika kita ingin melihat keindahan Kota Padang dan sekitarnya banyak yang menyarankan menaiki Gunung Padang.
 
Kawasan Gunung Padang berjarak kurang lebih 15 KM dari pusat Kota Padang. Dari pusata kota kita akan melewati Jembatan Siti Nurbaya yang melintang diatas Batang Arau. Butuh waktu sekitar 40 menit untuk mendaki dari bawah sampai ke puncak. 

pantai padang
Pemandangan pantai dari puncak bukit (Foto: Doc. SMI)
Di puncak kita akan menemukan sebuah taman yang rimbun dan teduh. Taman Siti Nurbaya namanya. Sinar Matahari yang menyengat seakan tidak terasa karena rindangnya pepohonan membuat suasana begitu sejuk.
 
Di tempat ini kita bisa melihat keindahan dari berbagai arah. Lihatlah ke arah barat, birunya Samudera Hindia yang membentang luas begitu indah. Di sebelah selatan, kita bisa melihat dengan jelas Pantai Air Manis. Kita juga bisa melihat Pulau Pisang Kecil dan Pulau Pisang Besar. Bergeser ke timur, hamparan landscap Kota Padang bagaikan lukisan yang begitu detil. Sangat Indah.
 
Semua pemandangan itu akan kian tampak indah ketika dalam balutan warna senja. Padang memang luar biasa.
 
Makam Siti Nurbaya
Kota Padang tidak bisa dipisahkan dengan kisah Siti Nurbaya. Sebuah maha karya dari pujangga ternama Marah Rusli ini sudah menjadi legenda dan ikon ibu kota Sumatera Barat.Gadis cantik kekasih Syamsul Bahri ini konon dimakamkan di puncak Gunung Padang. 
 
Untuk mengenang dan melestarikan legenda Siti Nurbaya maka dibangunlah Taman Wisata Siti Nurbaya di Gunung Padang.  Selain itu, nama Siti Nurbaya juga diabadikan menjadi nama sebuah event budaya tahunan Kota Padang, Festival Siti Nurbaya.
 
Logo Festival Siti Nurbaya 2016
Untuk melihat makam Siti Nurbaya yang ada di sekitar puncak gunung maka kita harus berjalan menaiki anak-anak tangga yang jumlahnya ratusan. Bagi yang suka hiking dan trekking sepertinya ini tantangan yang patut dicoba. Di Kanan –kiri anak tangga terdapat pegangan yang terbuat dari besi, gunanya untuk pegangan bagi pejalan kaki.
 
Menjelang puncak, tepatnya sebelah kanan kita akan melihat sebuah celah batu dengan tangga menurun. Setelah menuruni anak tangga itu kita akan sampai di sebuah ceruk batu. Di ceruk batu itulah terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai makamnya Siti Nurbaya.

BACA JUGA: Festival Siti Nurbaya 2016: Sebuah Etalase Kejelitaan Budaya Minang

Tidak ada yang istimewa di makam itu, sama seperti halnya makam yang lain. Bedanya ini adalah makam yang diyakini makamnya Siti Nurbaya.

Jembatan Siti Nurbaya tampak dari jauh (Foto: Doc. SMI)
Memandang makam Siti Nurbaya yang ada di puncak bukit, seketika terbayang dulu di sinilah Siti Nurbaya berdiri memandang laut lepas.  Dengan perasaan teramat sedih melepas sang kekasih, Syamsul Bahri, berlayar ke tanah Jawa.
 
Bunker Peninggalan Jepang
Di Gunung Padang juga terdapat bunker-bunker peninggalan masa Penjajahan Jepang. Meski tidak terawat dengan baik tapi keberadaan bunker-bunker itu cukup jadi saksi sejarah invasi Jepang di tanah air.
 
Jika dilihat dari lokasi, Gunung Padang memang sangat strategis untuk dijadikan markas pertahanan. Tempat ini merupakan daerah tertinggi yang dekat dengan pusat kota. Tak heran jika kemudian Jepang membangun bunker-bunker sebagai benteng pertahanan di Gunung Padang.
 
Bunker-bunker ini berada di sepajang jalur setapak menuju puncak Gunung Padang. Setidaknya ada sekitar tiga lokasi bunker yang bisa dijumpai menjelang puncak.
 
Salah satu bunker masih memiliki meriam di dalamnya. Dudukan meriam itu tertanam kuat ke lantai beton bunker. Meriam dengan ukuran panjang sekitar empat meter itu mengarah ke muara Batau Arau. Bisa dibayangkan bagaimana dulu meriam ini memuntahkan peluru ke kapal-kapal musuh yang memasuki muara Batang Arau.
                               
 
Turun dari Gunung Padang kita serasa membawa oleh-oleh berharga. Keindahan alam Minang yang memesona, kisah cinta nan tragis Siti Nurbaya, dan saksi sejarah era kolonialisme.

Tiga alasan yang sekaligus daya tarik Gunung Padang memang luar biasa. Gunung Padang merangkum keindahan alam, kisah cinta yang melegenda, dan peninggalan sejarah menjadi sebuah kombinasi yang sempurna untuk sebuah destinasi wisata.
 
Bagaimana, menyesal menaiki Gunung Padang?
 


 
4

Festival Siti Nurbaya 2016: Sebuah Etalase Kejelitaan Budaya Minang

Tuturahmad.com – Kalau ada yang bertanya, apa yang Anda tahu dari kota Padang selain Rendang dan Malin Kundang? Jawabannya adalah Siti Nurbaya. Tanpa bermaksud mengecilkan ikon terkenal lain di Kota Padang, cerita Siti Nurbaya memang telah menjadi legenda bukan saja bagi warga Minang sendiri tapi juga bagi bangsa Indonesia.
 
Berkisah tentang jalinan cinta antara Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri.  Tapi sayang, kasih mereka tak sampai hingga pelaminan dikarenakan kawin paksa yang mesti dijalani Siti Nurbaya. Siti Nurbaya dipaksa untuk menikah dengan Datuk Maringgih yang seorang rentenir tua, sebagai pelunas hutang keluarganya.
 
Kisah lengkapnya saya yakin semua sudah sama-sama hafal. Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri pada akhirnya menemui kematian, konon mereka dimakamkan berdampingan di Bukit Padang. 
 
Sad ending memang, tapi matinya tokoh utama cerita tidak lantas membawa mati pula sejarah novel terbitan Balai Pustaka ini. Siti Nurbaya jadi legenda. Kelihaian bercerita Marah Rusli yang menggambarkan realita kehidupan sosial masa itu mampu memberikan kekuatan lain, hingga cerita ini seolah nyata dan benar-benar terjadi.
 
Hingga kini novel Siti Nurbaya menjadi salah satu bacaan wajib para siswa ketika mempelajari kesusasteraan Indonesia. 
 
Festival Siti Nurbaya
Kini Siti Nurbaya kembali terlahir. Tetapi bukan sebagai seorang gadis jelita berambut panjang bak mayang terurai yang santun budi pekertinya. Siti Nurbaya yang sekarang adalah sebuah festival kebudayaan

Panggung Utama Festival Siti Nurbaya 2016. Megah (Foto: Doc. SMI)
Festival Siti Nurbaya namanya. Festival ini merupakan festival tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Padang. Festival Siti Nurbaya bertujuan untuk mengangkat budaya Minang serta menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berwisata ke Kota Padang. Festival ini pertama kali digelar pada tahun 2011. 
 
Festival Siti Nurbaya tahun ini bertempat di Pantai Muaro Lasak atau Tugu Perdamaian, Kota Padang. Berlangsung mulai tanggal 7-10 September 2016.
 
Kemeriahan Festival Siti Nurbaya
Pada Festival Siti Nurbaya yang ke 6 ini masyarakat Kota Padang disuguhi bermacam hiburan yang rancak bana. Dunsanak bisa merasakan kemeriahan festival mulai dari pembukaan hingga penutupan. Ada pun kegiatan yang diadakan adalah,
  • Karnaval dan Perahu Hias Festival Siti Nurbaya 
  • Lomba Salaju Sampan
  • Lomba Maelo Pukek 
  • Lomba Panjat Pinang
  • Lomba Permainan Anak Nagari (Enggrang, Sepak Rago, Tarompah Tampuruang) 
  • Lomba Manggiliang Lado 
  • Lomba Mangukua Karambia 
  • Lomba Malamang antar SMA
  • Lomba Membuat Teh Talua
  • Lomba Vokal Grup Lagu Minang Tingkat 
  • Lomba Sosial Media:

        – Lomba Instagram (Foto dan Video)
– Lomba Blog
– Lomba Facebook
– Lomba Twitter
– Lomba Email Kuesioner
– Lomba Campaign BBM
– Lomba Campaign Whatsapp

  • Lomba Fotografi
  • Gathering Komunitas “The Harmony Collaboration”
  • Nonton Bareng Film Anak Nagari
  • Pentas Seni 
Banyaknya kegiatan yang menampilkan beragam sajian budaya nagari ternyata mampu membuat warga Kota Padang berduyun-duyun ke lokasi acara. Tidak sedikit pula warga dari luar Kota Padang yang datang, bahkan wisatawan mancanagara. 
 
Kolaborasi Semua Elemen Masyarakat
Pada Festival Siti Nurbaya tahun ini pihak penyelenggara lebih memperluas keterlibatan elemen masyarakat dalam setiap kegiatan festival. Jika dulu hanya melibatkan tingkat kecamatan saja, maka tahun ini elemen masyarakat yang terlibat mulai dari tingkat RT/RW, pegawai SKPD, masyarakat umum, beberapa komunitas, dan tidak ketinggalan para pemuda Kota Padang.
 
Keterlibatan pemuda dalam Festival Siti Nurbaya diharapkan dapat membangkitkan kecintaan akan keragaman budaya lokal dan sekaligus menjadi pewaris yang mampu menjaganya. Sehingga kedepannya budaya Minang dapat terus berkembang di tengah-tengah masyarakat utamanya anak muda.
 
Perlombaan Yang Mengangkat Budaya Lokal
Ada beberapa perlombaan yang memang berangkat dari budaya dan tradisi lokal yang menarik minat pengunjung, diantaranya perlombaan Selaju Sampan atau perlombaan dayung sampan. Perlombaan ini adalah budaya dari masyarakat pesisir selatan Sumatera sebagai ajang perekat tali persaudaraan.

Perlombaan Salaju Sampan (Foto: Doc. SMI)
Lomba Maelo Pukek, yaitu lomba menarik jala ikan di pantai. Maelo Pukek adalah cara tradisional nelayan masyarakat Minang untuk menangkap ikan di pinggir laut atau pantai. Kegiatan ini memerlukan banyak orang yang terlibat.
 
Sebelum menarik jala, mereka terlebih dahulu harus berlayar ke tengah pantai untuk menebar jaring. Setelah jaring disebar, nelayan kembali ke tepi pantai, untuk menarik jala tersebut secara bersamaan. 
 
Selanjutnya lomba Manggiliang Lado atau mengulek cabai/cabe. Bagi masyarakat Minang lado atau cabe tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan mereka. Cabe merupakan elemen penting dalam kuliner Minang, karena memang sebagian besar kuliner Minang mempunyai cita rasa yang pedas.

Video kemeriahan lomba Manggiliang Lado
 
Kondisi tersebut membuat Manggiliang Lado dimasukkan kedalam rangkaian perlombaan di Festival Siti Nurbaya. Perlombaan ini banyak diikuti kaum wanita, baik tua maupun muda. Bahkan, adapula peserta wisatawan mancanagara.
 
Perlombaan selanjutnya yang diangkat dari tradisi masyarakat Minang yaitu Mangukua Karambia. Mangukua Karimbia adalah memarut kelapa, tradisi unik ini berawal dari kebiasan para ibu-ibu di Minang saat membuat makanan yang banyak mengandung santan. 
 
Meskipun memiliki arti memarut kelapa, dalam Manguku Karambia masyarakat Minang memiliki tehnik khusus yang pastinya beda banget dengan daerah lain. Alat yang digunakan adalah parutan kelapa yang biasa disebut Garudan.

Lomba Mangukua Karambia (Foto: Doc. SMI)
Garudan terbuat dari kayu dengan bentuknya sepintas mirip mainan anak-anak. Pada bagian belakang digunakan untuk dudukan sekaligus tempat duduk pemarut. Pada bagian ujung ada besi berbentuk seperti sendok yang bergigi. Kelapa tua yang terpilih akan diparut dengan alat ini dengan cara ditekan-tekan dan digeser-geser dengan arah vertikal atau horizontal.
 
Festival Siti Nurbaya Pelestari Budaya Minang
Basosok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggirkan. Kalau ajaran adat dapat didalami dan difahami, serta diamalkan oleh masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi tinggi mutunya.
 
Helatan Festival Siti Nurbaya takmelulu masalah kunjungan wisata lokal dan mancanagara, tapi jauh lebih besar dari itu, yaitu lestarinya adat dan budaya yang menjadi identitas suku Minang.

BACA JUGA: Asyiknya Wisata Sejarah dan Legenda di Puncak Gunung Padang

Ditengah krisis identitas yang mulai melanda generasi muda Minang, perhelatan Festival Siti Nurbaya bak oase di padang gersang. Kegiatan dan tema acara yang mengangkat kembali budaya dan adat lokal setidaknya membersitkan sebuah asa akan terciptanya generasi pecinta dan pemelihara budaya Minang.
Taman Muaro Lasak. Tempat Festival Siti Nurbaya (Foto:Doc. SMI)
Festival Siti Nurbaya dengan segala bentuk kreativitasnya tidak hanya mampu memberikan hiburan semata tapi juga kesadaran kepada masyarakat, khususnya pemuda Minang, bahwa ternyata kita sangat kaya akan budaya. 
 
Kesadaran itulah yang diharapkan mampu mewujudkan rasa “baliek ka pangka” pada jiwa pemuda Minang. Baliek ka pangka adalah menggali serta menghayati kembali falsafah dan nilai-nilai budaya Minangkabau sebagai panutan hidup sesuai dengan angan dan cita-cita masyarakatnya.
 
Sebuah Etalase Budaya
Jika boleh diibaratkan, Festival Siti Nurbaya adalah sebuah etalase yang mampu menyajikan aneka budaya Minang yang beragam. Budaya-budaya lama yang penuh falsafah dan tauladan tapi nyaris terlupakan, di Festival Siti Nurbaya kembali diangkat. 
 
Keluhuran budaya berkolaborasi dengan kreatifitas seni modern, menghasilkan sebuah suguhan yang rancak, menghibur dan mendidik.
 
Harapannya, semoga Festival Siti Nurbaya bisa menjadi ikon event budaya Padang yang mampu menampilkan wajah budaya Minang kembali jelita. Seperti Siti Nurbaya.
 
Semoga.






6

Spirit of Creativity. Memacu Adrenalin Di Situ Cileunca

tuturahmad.com – Bergelayun, dan melesat di seutas tali baja di atas danau. Mengarungi sungai dan jeramnya sambil teriak. Aaahhhh! Byuurrr! Itu adalah salah dua kegiatan yang dilakukan civitas Sygma Media Innovation di Situ Cileunca, pada Sabtu, 29 Juli 2016 kemarin.
 
Tidak hanya flying fox dan arung jeram saja, fun outing yang bertema Spirit of Creativity ini juga sebelumnya melakukan pemanasan dengan beberapa permainan kekompakan, asah konsentrasi dan kreatifitas.
 
——
 
Berangkat dari kantor di bilangan Babakan sari, Kiaracondong, sekitar jam 07 pagi. Berpuluh orang diangkut dengan 7 kendaraan pribadi. Sengaja berangkat pagi karena khawatir terjadi kemacetan di akhir pekan, apalagi tempat yang kami tuju adalah kawasan wisata.
 
Situ Cileunca terletak di Desa Warnasari, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Sekitar 45 Km dari Bandung, perlu waktu sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi. Itu kalau pakai kendaraan pribadi, kalau pakai kendaraan umum pasti lebih lama. Ga kebayang deh, sumpeh.
 
Tapi ga bakalan nyesel deh kalau main ke sana, suer. Sepanjang jalan selepas Banjaran kita akan disuguhi pemandangan indah khas pegunungan. Apalagi kalau sudah dekat ke Cileunca-nya, di kanan-kiri jalan terbentang kebun pinus, di kejauhannya menjulang gunung-gunung. Entah gunung apa, saya berpikir mungkin itu Gunung Tiga Jari, tempat dihukumnya Sun Go Kong, hehehe.
 
situ cileunca
Pemanasan dulu dengan game yang interaktif dan kreatif
Perjalanan, kehebohan di jalan, rundown acara, dan menu makan siang tidak akan saya bahas di sini. Saya hanya akan membahas dua kegiatan yang lumayan berkesan dan membuat adrenalin saya terpacu.
 
Flying Fox
Ini game yang membuat saya deg-degan dan perut mules. Secara gitu lho, saya itu orang yang takut ketinggian. Eh, sekarang malah disuruh gelayutan dan melesat di ketinggian, melintasi danau pula, dari sisi satu ke sisi satunya lagi. Ada mungkin berjarak 500 meteran mah.
 
situ cileunca
Ini dia jalurnya, mengerikan bukan?
Saya memilih giliran terakhir. Pura-puranya ngatur peserta, bantuin pasangin tali, dll. Padahal ngerasain nih jantung dag-dig-dug, dan perut mules. Saya ngebayangin;  gimana kalau ketika meluncur tiba-tiba di tengah-tengah danau berhenti. Padahal di tengah-tengahlah titik terendah tali terhadap permukaan danau. Terus, ketika berhenti gimana kalau tiba-tiba ada buaya raksasa muncul, atau anakonda yang loncat, atau gurita raksasa, atau mak Lampir, atau Karin Novilda yang loncat dari dalam air dan meluk saya. Owww…
 
Hingga akhirnya tibalah giliran saya. Asli deh, lutut terasa gemetar ketika menaiki tangga. Makin gemetar ketika sudah sampai di atas, makin gemetar ketika petugas memasangkan alat pengaman. 
 
Dan, saya didorong dengan tidak berperikemanusiaan! Dalam hitungan detik saya serasa hilang kesadaran, tidak teriak apalagi tertawa. Baru kemudian angin menyadarkan saya, dan saya harus teriak, aaahhhhh….Allahu Akbaaarrr…!
 
situ cileunca
Foto ini bukan saya, sumpah. ini Mr. Eman
Siing! Saya meluncur di atas danau berair hijau (atau biru? Entahlah, saya masih shock). Jarak 500 meter sebenarnya sebentar untuk flying fox, saya pun melihat demikian ketika orang lain melakukannya. Tapi bagi saya lumayan punya waktu untuk benar-benar menikmatinya. Saya baru benar-benar menikmati ketika sudah lebih separuhnya jarak terlewati. Kilatan air danau yang tertimpa sinar matahari laksana taburan pecahan kaca. 
 
Melihat ke depan, pucuk-pucuk daun bambu bergoyang. Seketika, saya teringat film Croucing Tiger Hidden Dragon, dimana ada adegan Chow Yun Fat loncat-loncatan di pucuk-pucuk pohon sambil menenteng kresek hitam berisi bala-bala dan sorabi panas.
 
situ cileunca
Menyebrang kembali. Sekarang senyum, tadinya teriak dan pucat
Jleg. Akhirnya sampai juga dengan selamat di seberang. Masih deg-degan, masih gemeteran, tapi ada kepuasan, tapi ada kesenangan. Hingga nyeberang lagi dengan perahu, tali baja dari ujung ke ujung saya tatap; gila, bisa juga gua akhirnya. Sampai lagi di seberang, kok jadi pengen naik lagi ya? 
 
Ternyata ketakutan itu bukan untuk dihindari tapi dihadapi.
 
Arung Jeram
Jujur deh, ini adalah kegiatan yang baru pertama kali saya lakukan. Seumur-umur belum pernah. Sering mendengar namanya, arung jeram, tapi belum sekalipun melakukannya. Paling banter waktu kecil, mandi di sungai menaiki batang pohon pisang yang dipasak berjejer. Itupun kalau masuk kategori arung jeram.
 
Wisata di situ Cileunca memang arung jeram primadonanya. Tempatnya di sungai Palayangan, yang sumber airnya adalah situ Cileunca.
situ cileunca
Istirahat sambil menikmati kelapa muda. Nyam..nyam..
Sebelum naik perahu, kami dibriefing dulu sama pendamping di sana. Sumpah lucu parah. Tuh si pendamping, yang ngakunya bernama Kang Raja cara menyampaikannya begitu kocak, serasa menonton Stand Up Comedy deh.
 
“Ingat, kalau anda kecebur atau jatuh ke sungai jangan panik. Kami sudah sediakan tim rescue di pinggir sungai. Nanti tim rescue akan melemparkan tali kepada Anda dan berteriak’ Tali..tali..tali’. Ambillah ujung talinya, nanti tim rescue akan menarik Anda. Awas, jangan salah pendengaran ya, mentang-mentang kecebur terus panik, tim rescue teriak tali..tali, eh kedengarannya tai..tai, jadi we menghindar. Susah jadinya”.
 
situ cileunca
Kang Raja in action. Menjelang arung jeram
Itu salah satu gaya menerangkan Kang Raja. Kontan membuat kami terbahak. Lumayan mengendurkan ketegangan.
 
Kami tidak langsung nyebur ke sungai, tapi mendayung dulu dari tepian situ Cileunca hingga pintu air. Pintu air inilah selain pengendali debit air juga sebagai hulunya sungai Palayangan. Selama mendayung ke pintu air kami banyak diberi arahan oleh pemandu bagaimana berarung jeram yang baik dan aman. Ada beberapa istilah dari pemandu yang mesti diperhatikan nantinya, misalnya boom, itu istilah yang memberitahukan kalau di depan ada jeram, kita diperintahkan untuk berpegangan dan menundukkan badan. Terus ada istilah goyang, ini dilakukan ketika perahu nyangkut di bebatuan, fungsinya agar perahu bisa bergeser dan kembali melaju. Pemandu membebaskan gaya bergoyangnya seperti apa, bisa goyang ngebor Inul Daratista, goyang gergaji Dewi Persik, goyang ngecor Uut Permatasari, atau goyang itik Zaskia Gotik. Terserah!
 
situ cileunca
Mendayung sampai jauh. Berat juga mendayung itu ya…
Setelah sampai di pintu air, kami turun dan beramai-ramai menggotong perahu menyeberangi jalan kemudian turun ke sungai. Kurang lebih ada 6 perahu yang siap meluncur.
 
Bagi yang sudah terbiasa atau petualang profesional, sungai Palayangan mungkin bukan apa-apa. Tapi bagi kami, yang lebih banyak hidup di ruangan ber-AC, duduk dan menatap komputer maka ini adalah petualangan yang luar biasa.
 
Satu per satu perahu melaju. Saya dan tim ada di posisi ke lima. Arus air sungainya begitu besar, jernih dan dingin. Di kiri dan kanan sungai dipagari tebing tanah dan pohon-pohon pinus.

Selang beberapa saat dari depan terdengar teriakan-teriakan histeris diiringi tertawa. Dan benar saja, di depan sudah menunggu jeram. Boom! Teriak pemandu. Sontak kami menundukkan badan dan berpegangan erat dengan tali-tali di perahu. 
 
Dan, Byyuurrr! Perahu kami nyungsep, setengahnya ditelan jeram. Kami teriak, terutama saya, entah kenapa kami teriak. Kaget, takut, atau senang? Entahlah, seolah memang semestinya begitu. Tapi kemudian setelah lepas dari jeram kami semua tertawa.
 
situ cileunca
Ekspresi tanpa rekayasa.
Badan basah, dingin mulai merayap, tapi seolah kami ketagihan meluncur di jeram. Hingga tibalah di jeram yang paling tinggi dan dalam. Namanya Curug Domba. Jangan bertanya kenapa dinamai Curug Domba. Saya juga tidak tahu.
 
Di jeram Curug Domba ini teriakannya paling kenceng, paling histeris, ekspresi pesertanya paling heboh (bisa dilihat di foto), paling banyak minum air. Iyalah, pas meluncur kita teriak, mulut lagi mangap berliter-liter air menerpa. Kenyang deh.
 
Setelah Curug Domba, jeram-jeram selanjutnya relatif landai dan tidak membahayakan. Tidak terasa dua jam sudah kami mengarungi sungai Palayangan. Dari hulu sungai hingga finish berjarak kurang lebih 5 kilometer. Setelah nyampe finish, serentak para peserta berloncatan ke sungai. Kesegaran dan kejernihan air sungainya begitu menggoda. Pengennya sih berenang terus tapi apa daya dinginnya minta ampun.
Dari pemberhetian akhir ke camping ground kami dijemput dengan mobil bak, mobil yang memang khusus menjemput para peserta arung jeram. Tadinya saya mau pulangnya naik perahu karet lagi, mendayung ke hulu, tapi sayang tidak ada petugas yang mau saya ajak mendayung. Hehehe..
situ cileunca
Meskipun baju orange tapi hati tetap biru. I Love Persib #VikingOrange
Singkat cerita, acara beres sekitar jam 4 sore. Setelah makan, foto-foto, dan pembagian kaos kamipun pulang. Pulang membawa kesenangan, keseruan, kenangan, semangat sekaligus lelah. Capek dan perut kenyang adalah dua alasan tepat untuk segera tidur dalam mobil.
 
situ cileunca
Horeee….. I’ll be back!
I’ll be back!
Kembali ke Bandung, kembali ke rutinitas, memupuk jenuh, menanam lelah. Hingga suatu saat nanti tiba saatnya untuk melepasnya. Dengan arung jeram lagi, flying fox lagi? Entahlah.
 
 

Tanda Tangan Ahmad