2

The Martian: Antara Pengetahuan dan Kemanusiaan

The Martian - tuturahmad.blogspot.com
The Martianadalah film yang saya review kali ini. Film ini saya tonton kemarin ketika menghabiskan libur panjang di Lembang. Daripada kemana-mana yang macetnya minta ampun, mending nonton film deh. Film ini saya beli di tukang DVD selepas pulang kerja. Bajakan? Pasti. Hehehe, tapi lumayan bagus sih.
The Martian film bergenre sci-fi atau fiksi ilmiah. Film ini diangkat dari novel laris berjudul sama karya Andy Weir. Saya memang suka film genre sci-fi. Pertama lihat film seperti ini tuh dulu zaman saya SMU, judulnya CONTACT. Yang main Jodie Foster dan Matthew McCounaghey. Terus saya suka film The Gravity, terus lagi Interstellar. Nah, yang terbaru ini, yang kemarin saya tonton adalah The Martian.
Menurut saya ada kemiripan antara The Martian dan Interstellar. Bukan hanya setting luar angkasa dan alam semesta, tapi pemain dan ceritanyapun ada kesamaan. Matt Damon dan Jessica Chastain yang sama-sama main di Interstellar kini beradu akting juga di The Martian. Mungkin karena akting mereka bagus di Interstellar maka sutradara The Martian ngajak mereka buat gabung di The Martian. Meureun eta oge.
Jika dalam Interstellar misinya adalah mencari planet lain yang mirip bumi guna menyelamatkan spesies manusia dari kepunahan, The Martian menceritakan para astronot dan manusia bumi lainnya berusaha bersama-sama menyelamatkan seorang manusia yang tertinggal di Mars.
Dalam The Martian, diceritakan Mark Watney (Matt Damon) ditinggal sendirian oleh teman-temannya –  para peneliti, di planet Mars. Mark dianggap tewas tersapu badai Mars dan tidak bisa terevakuasi oleh teman-temannya. NASA-pun mengumumkan kematiannya dan melakukan pemakaman simbolik.
Padahal Mark masih hidup. Setelah siuman dari pingsan dia kembali ke kamp yang di sebut hab/habitat, tempat dia dan rekannya berlindung selama di Mars. Hab ini dilengkapi dengan pasokan oksigen, air dan listrik, juga persediaan makanan.
Mark menyadari bahwa dia sendirian di Mars. Teman-temannya tidak mengetahui bahwa dia selamat. Orang-orang bumi kalaupun tahu dia masih hidup dan ingin menyelamatkannya, maka butuh waktu  empat tahun untuk sampai di Mars. Dia mulai berhitung dengan keadaan. Menghitung persediaan makanan, air, listrik, dan oksigen. Ternyata makanan hanya cukup untuk 10 bulan.
The Martian - tuturahmad.blogspot.com
Hidup sendiri di Mars, kebayang.
Mark adalah seorang botanis (ahli tanaman), sayangnya sekarang dia berada di Mars. Sebuah planet tandus yang tidak mungkin tanaman tumbuh. Mark sadar insting bertahan hidup saja tidak cukup, harus ditunjang dengan sains.
Dengan segala persediaan dan peralatan yang ada Mark membuat alat yang bisa memproduksi air, meski sedikit. Mark mengangkut tanah Mars ke dalam hab, dan mengubah sebagain ruangan hab menjadi kebun dan menanaminya dengan kentang. Meski awalnya gagal, tapi kentang – kentang yang ditanam Mark pada tanah Mars yang digemburkan lambat laun tumbuh dan bertunas. Setelah beberapa sol (saya tidak tahu hitungan sol di sini apa, apakah hari, minggu, atau bulan) kentangpun dipanen. Mark bersorak bahagia dan berujar bahwa dia adalah botanis terbaik di planet Mars (emang ada orang lain lagi gitu?).

The Martian - tuturahmad.blogspot.com
Membuat kebun kentang di dalam Hab
Salah satu yang saya suka dari film-film fiksi luar angkasa seperti ini adalah pada saat penggambaran luar angkasa. Kita bisa melihat mereka (Hollywood) begitu bisa menggambarkan ruang alam semesta yang sangat luas (sayangnya dalam The Martian eksplorasi keindahan semesta tidak sebanyak Interstellar dan Gravity). Bermiliar bintang dan planet. Bumi begitu kecil bila dibandingkan dengan semesta. Merinding saya ketika melihat scene itu. Miliaran atau mungkin triliunan planet dan bintang yang bertebaran di alam semesta ini, mungkinkan kita hanya sendiri?
The Martian - tuturahmad.blogspot.com
Padahal shootingnya banyak di ruangan
Kembali ke film The Martian. Meskipun film ini agak-agak lebay menurut saya, bagaimana tidak, seisi planet bumi mengerahkan sumberdaya manusia dan sains “hanya” untuk menyelamatkan satu orang yang tertinggal di Mars. Tapi setidaknya film ini mengajarkan tentang bagaimana kemanusiaan dan sains bisa berjalan beriringan. Apalah arti sebuah kemajuan dalam bidang sains jika kemudian keberadaannya justru mengorbankan manusia, meski hanya satu orang.
Dalam karakter Mark, kita bisa belajar semangat hidup, pantang menyerah, inovasi, dan keberanian menghadapi resiko yang tak terbayangkan. Mark menggabungkan semangat bertahan hidup dengan inovasi sains. Dua modal itulah yang membuat Mark tegar bertahan.
Film ini sangat recommended menurut saya, meski alurnya lambat, tapi banyak pelajaran dan pesan yang dalam yang bisa kita dapat. Tak salah IMDB mengganjar dengan rate 8.2
Dari The Martian setidaknya kita masih bisa mempertanyakan tesis Thomas Hobbes, homo hommoni lupus, manusia adalah serigala untuk manusia lainnya. Dari The Martian kita masih bisa melihat hati nurani bicara, tidak selalu saintis. Dari The Martian kita sadar, dalam semesta yang luas tanpa batas ini, kita adalah keluarga. Selamat menonton!

Ahmad Andriana

2 Comments

Tinggalkan Balasan